3 Puisi Bertema Lingkungan Kumuh Akibat Penumpukan Sampah
Sampah yang berserakan bukan hanya noda di tanah, tetapi juga menodai pemandangan.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM - Sampah yang berserakan bukan hanya noda di tanah, tetapi juga menodai pemandangan.
Jalan yang seharusnya lapang berubah menjadi sesak karena tumpukan sampah di pinggir jalan.
Sampah juga memenuhi selokan yang mestinya jernih kini berbau busuk karena limbah.
Hal ini adalah dampak dari gagalnya pengelolaan sampah.
Jarangnya petugas mengangkut sampah memicu dibuangnya sampah secara sembarangan.
Bila tidak dibuang sembarangan maka pilihan lainnya adalah dengan cara dibakar.
Pilihan ini juga menimbulkan masalah baru bagi lingkungan.
Berikut 3 puisi tentang lingkungan yang kumuh akibat sampah.
Puisi 1
“Ratapan Lorong Kumuh”
Lorong ini menangis dengan air mata hitam
Bau busuk menari bersama angin malam
Anak-anak terdiam menahan napas sesak
Plastik menggunung bagai bukit tanpa hijau
Sementara bintang pun enggan menatap bumi
Sehelai daun gugur di atas timbunan sampah
Membawa pesan bahwa alam sedang sakit
Rumah-rumah merapat, jendela pun ditutup
Seakan ingin mengusir derita yang masuk
Namun bau duka tetap mengetuk pintu
Wahai tangan yang mestinya mengangkut
Mengapa diam membiarkan luka membesar?
Jalan kecil ini sudah berubah jadi nisan
Kuburan mimpi yang terhenti dalam sunyi
Hanya ratap jiwa yang masih bertahan
Puisi 2
“Senandung Selokan Keruh”
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Tumpukan-Sampah-di-Plengkung-Jagabaya-Jogja-Dibuat-Seni-Mirip-Tokoh-Kartun.jpg)