Sudah Terpasang 3.500 SR, PT PGN Dorong Pemanfaatan Jargas di Sleman

Harapannya program tersebut dapat mengurangi impor LPG sekaligus menguangi penggunaan LPG bersubsidi.

Dok. Istimewa
Direktur Utama PT PGN Tbk, Arief Setiawan Handoko melakukan inspeksi langsung pada pengembangan jaringan gas di Sleman beberapa waktu lalu. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk mendorong pemanfaatan jaringan gas (jargas) untuk rumah tangga di Sleman.

Harapannya program tersebut dapat mengurangi impor LPG sekaligus menguangi penggunaan LPG bersubsidi.

Direktur Utama PT PGN Tbk, Arief Setiawan Handoko mengatakan saat ini LPG masih impor, sehingga jargas akan membantu mengurangi beban arus impor dan subsidi LPG. 

“Mudah-mudahan penggunaan jargas semakin banyak dicontoh, agar masak lebih efisien dan cepat,” katanya melalui keterangan tertulis, Rabu (02/10/2024).

Ia menerangkan pengembangan jaringan gas di Sleman menggunakan skema Compressed Natural Gas (CNG) Clustering.

Skema tersebut digunakan karena Kabupaten Sleman belum terjangkau oleh jaringan pipa transmisi maupun distribusi gas bumi. 

Sehingga gas bumi dari Blora diangkut dalam bentuk CNG menggunakan truk Gas Transport Module (GTM), kemudian dikompres untuk diturunkan tekanannya sebelum disalurkan ke rumah-rumah pelanggan.

Sampai dengan saat ini, jargas untuk rumah tangga di Sleman sudah terpasang sebanyak 3.500 sambungan rumah (SR) dari target sebanyak 7.000 SR.

Ia pun optimis jumlah pelanggan akan meningkat seiring dengan infrastruktur jargas yang terus dibangun di wilayah ini.

“Layanan gas bumi untuk rumah tangga merupakan bentuk kewajiban PGN melaksanakan public service obligation. Jadi PGN berkewajiban untuk melayani masyarakat. Selain melayani masyarakat, kami menuju program net zero emission,” terangnya.

Arief juga menghimbau agar tim PGN yang bertugas di area Yogyakarta menggencarkan sosialisasi pemanfaatan jargas kepada masyarakat.

Termasuk edukasi terkait keselamatan penggunaan gas bumi. Hal itu karena Yogyakarta merupakan wilayah pengembangan baru.

Ia pun memastikan keamanan penggunaan jargas di Sleman.

“Safety nomor satu bagi kami. Maka penting diinformasikan bahwa kalau gas bumi sifatnya lebih ringan udara. Kalau ada kebocoran, gas bumi mudah terdeteksi karena diberi aroma pembau, sehingga valve bisa segera ditutup oleh pelanggan,” imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved