Isu Gempa Megathrust Kembali Mengemuka, Kepala BMKG Ingatkan Pentingnya Mitigasi

BMKG menyampaikan terdapat sejumlah wilayah yang berisiko mengalami Gempa Megathrust, tak terkecuali di selatan Jawa.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Alexander Ermando
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati saat melakukan kunjungan kerja ke Kalurahan Bugel, Kapanewon Panjatan, Kulon Progo, Jumat (23/08/2024). 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Isu Gempa Megathrust saat ini kembali mengemuka di masyarakat.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) menyampaikan terdapat sejumlah wilayah yang berisiko mengalami Gempa Megathrust , tak terkecuali di selatan Jawa.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan naiknya kembali isu gempa megathrust di Indonesia salah satunya dipicu oleh Gempa Megathrust di Jepang belum lama ini.

"Saat itu gempanya mencapai Magnitudo 7,1, yang kemudian berlanjut ke wilayah lain," jelas Dwikorita ditemui di Balai Kalurahan Bugel, Panjatan, Kulon Progo pada Jumat (23/08/2024) lalu.

Ia menyebut saat itu ilmuwan dari Jepang memprediksi Gempa Megathrust akan bergerak dan meluas ke bagian Asia lainnya, tak terkecuali di Indonesia.

Prediksi inilah yang menurutnya memicu pertanyaan di masyarakat.

Meski begitu, Dwikorita menegaskan kesiapsiagaan dan upaya mitigasi bencana menjadi hal paling penting.

Sebab sulit untuk memprediksi kapan persisnya terjadi Gempa Megathrust .

"Tidak ada yang bisa menjawab kapan gempanya terjadi, sehingga kesiapsiagaan jadi yang paling penting, bukan rasa takutnya," ujarnya.

Kulon Progo sendiri tak lepas dari risiko Gempa Megathrust , yang bisa menyebabkan tsunami di perairan selatan.

Namun Dwikorita menilai dampaknya bisa diminimalisir dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia, salah satunya Yogyakarta International Airport (YIA).

Menurutnya, gedung YIA sudah didesain tahan gempa hingga Magnitudo 8,7.

Jarak antara lantai 1 dan 2 pun dibuat lebih dari 10 meter untuk mengantisipasi terjangan tsunami.

"Gedung YIA bisa difungsikan sebagai shelter karena tidak mudah ambruk saat terjadi gempa besar, setidaknya mampu menampung hingga 10 ribu orang," kata Dwikorita.

Pihaknya pun telah mengkaji kemungkinan jeda waktu antara gempa dan datangnya tsunami.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved