Berita Bantul Hari Ini

Dinkes Bantul Catat 829 Kasus DBD hingga Pertengahan Oktober 2022

Dinkes Bantul mencatat sebanyak 829 kasus demam berdarah dengue ( DBD ) telah terjadi di wilayahnya selama 1 Januari - 19 Oktober 2022.

Penulis: Neti Istimewa Rukmana | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Neti Istimewa Rukmana
Kepala Dinkes Kabupaten Bantul, Agus Budi Rahardjo (kiri( dan Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Bantul, Joko Santoso (kanan) 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul mencatat sebanyak 829 kasus demam berdarah dengue ( DBD ) telah terjadi di wilayahnya selama 1 Januari - 19 Oktober 2022.

Secara total, kasus yang disebabkan oleh aedes aegypti itu paling banyak ditemui di Kapanewon Kasihan sebanyak 131 kasus, Kapanewon Banguntapan sebanyak 124 kasus, Kapanewon Pleret sebanyak 93 kasus, Kapanewon Sewon sebanyak 90 kasus dan Kapanewon Imogiri sebanyak 53 kasus. 

Hal itu dikatakan oleh Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Bantul , Joko Santoso.

"Kasus tertinggi ada pada Januari sebanyak 167 kasus. Itu sudah biasa pada setiap tahun. Karena, siklus itu (kasus DBD ) akan naik pada Desember kemudian peak season ada pada Januari. Sedangkan, Maret baru terlihat penurunan kasus ( DBD )," papar Joko kepada awak media saat menggelar jumpa pers di lobby kantor Dinkes Kabupaten Bantul , Kamis (19/10/2022).

Baca juga: Daftar Gejala DBD pada Anak yang Wajib Diwaspadai, Kerap Merebak saat Musim Hujan Tiba

Secara umum, kasus itu akan kembali naik pada Juli-Agustus dan mulai terlihat menurun pada September.

Ia turut menuturkan, kasus DBD di Kabupaten Bantul kian meningkat dibandingkan tiga tahun yang lalu. 

"Kita tidak akan membandingkan ( jumlah kasus DBD ) pada saat pandemi Covid-19 atau pada 2020 dan 2021. Karena pada saat itu kasus-kasus DBD tertutup dengan kasus Covid-19 ," tambahnya. 

Sementara itu untuk kewaspadaan saat musim hujan yang berlangsung beberapa hari terakhir di Kabupaten Bantul , pihaknya pun menekankan kepada masyarakat untuk melakukan pengendalian sarang nyamuk atau pemberantasan sarang nyamuk.

"Baik itu melalui 3M, yaitu mengubur, menutup dan menguras. Kemudian bisa memberikan obat-obatan spray atau obat oles anti nyamuk," tuturnya.

3M itu setidaknya bisa dilakukan oleh masyarakat di setiap rumahnya.

Baca juga: Ada 1.632 Kasus DBD di DIY, Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kewaspadaan Jelang Musim Penghujan

Di sisi lain, Kabupaten Bantul yang memiliki program WoW Mantul atau Wolbachia wis Masuk Bantul, baru akan terlihat manfaatnya setelah tiga tahun program itu diluncurkan.

Pasalnya, program pengendalian dengue dengan teknologi nyamuk aedes aegypti ber-wolbachia itu, baru diluncurkan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul pada 2021.

Sebagai informasi, program yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Bantul itu pun, bekerja sama dengan World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta .

"Karena pelepasan nyamuknya pada Mei lalu kita belum bisa melihat perkembangan target nyamuk yang diharapkan. Target dari WMP ini adalah di atas 60 persen. Sedangkan pada pemantauan evaluasi terakhi,  rata-rata (capaian WoW Mantul baru berada di angka) 46 persen," tutupnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved