Bantul

Upacara Langit Bumi Segara, Masyarakat Srigading Larung Kepala Kerbau di Laut

Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan atas berkah dan karunia rizki yang melimpah.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Prosesi pelarungan kepala kerbau ke laut dalam upacara langit bumi segara di pantai Samas, Selasa (11/9/2018) 

Laporan Reporter Tribun Jogja Ahmad

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Upacara langit bumi segara di pantai Samas berlangsung sakral.

Kepala kerbau diarak dan dilarung ke tengah laut oleh masyarakat Srigading, Sanden, Bantul.

Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur dan terimakasih kepada Tuhan atas berkah dan karunia rizki yang melimpah.

"Melalui upacara ini masyarakat Srigading mengungkapkan rasa syukur, terimakasih kepada Tuhan yang maha kuasa, karena telah diberikan satu anugerah dan rahmat," kata Ketua panitia yang juga Lurah Desa Srigading, Wahyu Widodo, Selasa (11/9/2018).

Baca: Labuhan Tahun Dal, Songsong Gilap Ikut Dilarung ke Laut

Ia mengumpamakan, Tuhan ketika disimbolkan langit, maka turun ke Bumi akan berwujud menjadi tanaman.

Tanaman itu akan bisa dinikmati oleh para petani dan masyarakat.

"Ketika (Tuhan) turun ke Laut maka akan mewujud menjadi Ikan dan bisa dinikmati oleh para nelayan," ungkapnya.

Upacara Langit Bumi Segara diawali sejak malam hari dengan tradisi Mahesa Sura yang kemudian dilakukan penyembelihan satu ekor kerbau.

Prosesi pelarungan kepala kerbau ke laut dalam upacara langit bumi segara di pantai Samas, Selasa (11/9/2018).
Prosesi pelarungan kepala kerbau ke laut dalam upacara langit bumi segara di pantai Samas, Selasa (11/9/2018). (TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin)

Daging kerbau dimasak bersama-sama oleh masyarakat dan kepalanya dilarung ke tengah laut.

Baca: Warga Antusias Ikut Ritual Larung di Parangkusumo

Prosesi pelarungan ini berlangsung sakral. Kepala kerbau dibawa ke tepi pantai dengan menggunakan jodhang yang diusung oleh empat abdi.

Dikawal oleh tabuhan kesenian dan puluhan bregada.

Setibanya ditepi pantai, kepala kerbau kemudian dilarung dengan menggunakan kapal jukung nelayan.

Melarung kepala kerbau ini, diungkapkan Wahyu, merupakan bagian dari menjaga keseimbangan alam.

"Dilarung ke laut itu supaya ikan bisa makan kepala kerbau dan nantinya bisa gemuk. Pada akhirnya ikan itu bisa ditangkap oleh nelayan samas dalam keadaan besar dan sehat. Ini siklus menjaga keseimbangan alam," tuturnya.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved