Budaya

Labuhan Tahun Dal, Songsong Gilap Ikut Dilarung ke Laut

Perhelatan hajad dalem labuhan Agung di Parangkusumo semakin terasa istimewa saat bertepatan dengan tahun Dal menurut penanggalan jawa.

Labuhan Tahun Dal, Songsong Gilap Ikut Dilarung ke Laut
Tribun Jogja/ Ahmad Syarifudin
Abdi Dalem membawa Songsong gilap, (depan) dan pengageman dalem serta uborampe dalam ritual labuhan di Parangkusumo, Senin (16/4/2018) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ahmad Syarifudin

TRIBUNJOGJA.COM - Perhelatan hajad dalem labuhan Agung di Parangkusumo semakin terasa istimewa saat bertepatan dengan tahun Dal menurut penanggalan jawa.

Pasalnya, berdasarkan siklus delapan tahunan tersebut, Labuhan di Pantai Parangkusumo ini memiliki perbedaan dibandingkan dengan labuhan di tahun biasa.

Perbedaan paling kentara bisa dilihat dari adanya songsong gilap (payung), berwarna kuning keemasan yang turut serta dilarung ke laut Pantai Selatan.

Abdi Dalem Parangkusumo, Mas Jajar Surakso Tri Rejo, mengatakan, songsong gilap dalam labuhan Agung pantai Parangkusumo akan dikeluarkan setiap perayaan tahun Dal.

Siklusnya setiap satu windu, delapan tahun sekali.

Baca: Perlu Diketahui, Ini Makna Labuhan Ageng Parangkusumo

Keberadaan payung gilap ini memiliki filosofi mendalam.

"Filosofi payung itu meneduhkan, sehingga bisa mengayomi. Mudah-mudahan Sultan bisa betul-betul mengayomi kawula alit (Rakyat) yang ada di Yogja," terang dia.

Payung gilap yang ikut dilarung berwarna kuning kemasan.

Payung ini didatangkan langsung dari Kraton Yogyakarta.

Ketika dilarung ke pantai, posisi payung dalam keadaan menguncup.

Dalam labuhan, keberadaan payung Gilap tersebut, boleh diperebutkan dan dibawa pulang oleh warga yang dianggap beruntung.

"Payung ini boleh diperebutkan, asalkan sudah menyentuh air laut," jelas dia. (tribunjogja)

Penulis: Ahmad Syarifudin
Editor: has
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved