Indeks Pembangunan Manusia Kota Yogyakarta Tertinggi se-Indonesia

IPM tersebut dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai dasar saat akan mengambil kebijakan untuk pelaksanaan pembangunan

Penulis: gil | Editor: Ari Nugroho
tribunjogja/dwi nourma handito
Ilustrasi: Suasana kawasan permukiman padat penduduk di pinggir kali Code Kota Yogyakarta. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Yogyakarta menjadi yang tertinggi se-Indonesia dengan nilai 85,32 walau angka gini ratio atau ketimpangan pendapatannya juga yang tertinggi di tingkat nasional.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Yogyakarta Harjana mengatakan, IPM disusun berdasarkan penilaian dari berbagai aspek, diantaranya aspek kesehatan, pendidikan, hingga tingkat kesejahteraan masyarakat.

Penyusunan IPM untuk 2016 tersebut ditetapkan berdasarkan hasil survei sosial ekonomi nasional yang dilakukan merata di seluruh daerah di Indonesia oleh BPS.

"Angka IPM di kota Yogyakarta sebesar 85,32, angka ini diatas rata-rata nasional sebesar 70,18," ujar Harjana pada Selasa (19/12/2017) saat paparan ke awak media.

Berdasarkan hasil survei terhadap beberapa indikator penyusun IPM diketahui bahwa tingkat harapan hidup warga di Kota Yogyakarta cukup tinggi yaitu mencapai 74,3 tahun dengan harapan lama sekolah 16,81 tahun dan rata-rata lama sekolah 11,42 tahun dengan pengeluaran riil perkapita per tahun mencapai Rp 17,77 juta.

Harjana menyebut, IPM tersebut dapat dimanfaatkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta sebagai dasar saat akan mengambil kebijakan untuk pelaksanaan pembangunan di Kota Yogyakarta.

Baca: Siapa Bilang Jomblo Tidak Bahagia? Nih Hasil Survei BPS

Berdasarkan data BPS, terjadi peningkatan IPM di Kota Yogyakarta sejak 2012 hingga 2016.

Pada 2012, IPM Kota Yogyakarta mencapai 83,29, pada 2013 naik menjadi 83,61, 2014 kembali naik menjadi 83,78 dan pada 2015 mencapai 84,56.

"Jika ingin mempertahankan atau menaikkan nilai IPM, maka seluruh aspek penilaian ini yang harus menjadi fokus pemerintah daerah," sebutnya.

Walau memiliki nilai IPM yang cukup tinggi, Kota Yogyakarta harus menghadapi kenyataan memiliki gini ration atau ketimpangan pendapatan yang tak kalah tinggi.

Di tahun 2016 gini ratio Kota Yogyakarta yakni 0,42, jauh lebih tinggi dibanding angka nasional yakni 0,394.

Harjana menjelaskan, perbandingan IPM dengan gini ratio disebabkan beragamnya warga kota Yogyakarta yang cukup tinggi sehingga tingkatan ekonomi urut beragam.

Kota Yogyakarta memiliki warga yang snagat kaya sekali dan warga miskin sekali.

"Memang umumnya terjadi di wilayah perkotaan, beda dengan wilayah seperti desa yang strata ekonominya hampir merata, selain itu penilaia gini ratio hanya fokus pada aspek pendapatan saja," jelasnya.

Meskipun demikian, Harjana menyebut jika tingkat kemiskinan di Kota Yogyakarta cukup rendah yaitu 7,7 persen atau di bawah rata-rata nasional sekitar 10 persen. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved