Penjual Durian di Purworejo Tak Berani Pasang Harga Tinggi
Hal itu disebabkan rasa durian banyak yang hambar sehingga membuat penjual tidak berani mematok harga terlalu tinggi
Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Mona Kriesdinar
Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, PURWOREJO - Umumnya harga durian pada awal musimnya cenderung mahal karena banyak peminat sedangkan stok barang sedikit. Namun pada awal musim durian di Purworejo tahun ini harga durian malah cenderung murah. Hal itu disebabkan rasa durian banyak yang hambar sehingga membuat penjual tidak berani mematok harga terlalu tinggi.
Sejak sepekan terakhir pedagang durian telah mulai bermunculan di beberapa titik di Purworejo. Mereka berjualan antara lain di kawasan jalan A Yani Purworejo, Simpang empat Pantok, dan di selatan perlintasan KA di Batoh, kecamatan Bayan. Pengguna jalan yang melintas pun telah mulai bisa mencium aroma durian yang cukup menyengat.
Meski aroma durian menyengat, namun rasanya sering tidak sesuai harapan. Itu diungkapkan oleh seorang penggemar durian, Suwondo (47) warga Kebumen yang sedang melintas di Purworejo. Pria yang bepergian bersama keluarganya menuju ke Yogyakarta ini menyempatkan diri membeli durian di Batoh dan kawasan jalan A Yani Purworejo.
"Ya meski wangi gitu, tapi rasanya anyep (hambar, red). Mungkin karena terkena hujan sewaktu masih di pohon. Yang manis juga tidak terlalu banyak. Tapi karena sudah senang dan nunggu lama ya beli juga," katanya ketika ditemui di kawasan jalan A Yani Purworejo, Senin (20/1/2014).
Suwondo mengungkapkan, ia menghabiskan sedikitnya Rp 130 ribu untuk membeli sekitar enam buah durian ukuran sedang. Menurutnya, harga itu terbilang murah untuk ukuran awal musim durian.
"Mungkin karena rasanya yang masih seperti itu, harganya juga masih murah. Semoga nanti pasokan durian berikutnya rasanya lebih manis," katanya.
Sementara itu, petani durian asal desa Semagung di kecamatan Bagelen yang mengantarkan durian panenannya ke Purworejo, Kasiyem (30) mengatakan, saat ini ia masih belum bisa menjual banyak durian. Dalam sehari ia hanya bisa memungut 5-10 durian dari kebunnya.
"Soalnya kalau di Semagung durian nggak dipetik, tapi ditunggu sampai jatuh. Kalau yang jatuh biasanya lebih manis meskipun terkena hujan," katanya.
Mengenai rasa durian yang berubah tersebut dibenarkan oleh Ir Eko Anang SW, Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian Peternakan Kelautan dan Perikanan (Dipernaklaukan) Purworejo. Menurutnya, curah hujan yang tinggi berpengaruh pada rasa dan kuantitas panenan durian.
"Ketika pohon durian sedang berbunga pada akhir 2013 kemarin kan curah hujan tinggi. Itu yang berpengaruh pada musim durian pada awal 2014 ini. Selain jumlahnya menurun, rasanya juga tidak seperti ketika pohon berbunga di iklim kering," katanya.(TRIBUNJOGJA.COM)