Pecinta KA Yogyakarta Kunjungi Masinis Tragedi Bintaro

Oktober memiliki makna tersendiri karena ada suatu peristiwa luar biasa dalam dunia perkeretaapian yaitu tragedi Bintaro 19 Oktober 1987.

Penulis: Rento Ari Nugroho | Editor: Ikrob Didik Irawan

Laporan Reporter Tribun Jogja, Rento Ari Nugroho

TRIBUNJOGJA.COM, PURWOREJO - Bagi para pemuda, Oktober merupakan bulan ketika Sumpah Pemuda digaungkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Sedangkan untuk komunitas pecinta kereta api, Oktober memiliki makna tersendiri karena ada suatu peristiwa luar biasa dalam dunia perkeretaapian yaitu tragedi Bintaro 19 Oktober 1987.

Oleh para pecinta KA asal Yogyakarta yang notabene didominasi anak muda, acara unik untuk memeringati Sumpah Pemuda sekaligus memeringati tragedi Bintaro pun digelar.

Pada Minggu (27/10/2013), beberapa orang perwakilan para pecinta KA dari Yogyakarta melakukan kunjungan ke rumah saksi mata kejadian Tragedi Bintaro, Slamet Suradio (74). Dalam kunjungannya, selain bersilaturahmi dan memberikan tali asih, komunitas pecinta KA yang biasa disebut Railfans ini juga mendapat inspirasi semangat berkarya dari Slamet.

Kunjungan dimulai setelah tujuh orang anak muda tersebut, Deddy Herdito (31), Setiawan Wisnu (16), Dwi Mada (18), Indah (27), Hari (28), Ahmad (16), dan Narendro Seto (15) menempuh perjalanan sekitar dua jam dari kota Yogyakarta. Mereka menggunakan motor menuju rumah Slamet di desa Gintungan kecamatan Gebang, Purworejo.

Pimpinan rombongan Dedy Herdito kepada Mbah Slamet mengatakan, mereka datang tidak hanya mewakili Railfans Yogyakarta, namun railfans dari berbagai daerah. Sejak beberapa minggu terakhir mereka menggalang dana untuk disampaikan kepada Slamet.

"Walau jumlahnya tidaklah seberapa, namun dalam kunjungan ini kami ingin menjalin silaturahmi. Sebagai railfans, banyak hal yang bisa kami dapatkan dalam pertemuan dengan saksi mata sejarah penting kecelakaan KA paling fenomenal di Indonesia ini," jelas Deddy.

Kepada para Railfans Mbah Slamet mengaku sangat terkesan. Ia yang merasa tersingkirkan karena merasa dijadikan kambing hitam dalam Tragedi Bintaro tersebut merasa bahwa Railfans adalah sahabat-sahabatnya.

"Semoga peristiwa yang menimpa saya ini bisa dijadikan pelajaran generasi muda, terutama dalam memerjuangkan kebenaran," katanya perlahan sambil sesekali terbatuk.

Kepada para railfans Mbah Slamet pun menunjukkan sejumlah bukti miliknya misalnya fotokopi Pemindahan Tempat Persilangan (PTP). Menurutnya, hampir semua bukti yang ia miliki berupa fotokopian karena yang asli telah diambil pihak-pihak yang ingin menyudutkannya.

Namun demikian, ia tidak patah arang. Menurutnya, selama ia masih hidup, ia akan terus berjuang, entah apa dan bagaimana caranya.

Keteguhan dan ketegasan sikap inilah yang menurut Deddy bisa menjadi inspirasi anak muda saat ini. Terlebih dalam momen Sumpah Pemuda, sikap teguh Mbah Slamet dalam memperjuangkan haknya patut ditiru.

"Selain itu, ketegaran beliau dalam menjalani hidup setelah peristiwa itu patut disimak dan dipelajari. Walau berbagai kesulitan melanda, Mbah Slamet berhasil menata kembali hidupnya, bahkan dua dari tiga orang anaknya telah berhasil ia sekolahkan sampai SMK," kata Deddy.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved