Ini Pemicu Utama Meningkatnya Kasus Campak di DIY

Kasus penyakit campak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan tren peningkatan sejak tahun lalu hingga awal tahun ini.

Tayang:
Freepik
PEMICU MENINGKATNYA CAMPAK - Ilustrasi campak. Penyebab utama dari melonjaknya kasus campak di DIY tak lepas dari masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap. 

Ringkasan Berita:
  • Sejak tahun lalu hingga awal tahun ini, kasus penyakit campak di DIY menunjukkan tren peningkatan.
  • Ini menjadi peringatan serius bagi tenaga kesehatan mengingat campak merupakan penyakit menular yang berpotensi memicu komplikasi fatal, khususnya pada anak-anak dengan daya tahan tubuh rendah.
  • Dosen FKIK UMY, dr. H. M. Bambang Edi Susyanto, Sp.A., M.Kes menyebut tren kenaikan ini masih berlanjut, meskipun situasi secara umum masih dalam pantauan dan upaya pengendalian otoritas kesehatan setempat.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kasus penyakit campak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan tren peningkatan sejak tahun lalu hingga awal tahun ini.

Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi tenaga kesehatan mengingat campak merupakan penyakit menular yang berpotensi memicu komplikasi fatal, khususnya pada anak-anak dengan daya tahan tubuh rendah.

Peningkatan kasus ini dikonfirmasi oleh Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. H. M. Bambang Edi Susyanto, Sp.A., M.Kes.

Ia menyebut tren kenaikan ini masih berlanjut, meskipun situasi secara umum masih dalam pantauan dan upaya pengendalian otoritas kesehatan setempat.

“Di Daerah Istimewa Yogyakarta memang terjadi peningkatan kasus campak, baik pada tahun lalu maupun tahun ini. Pada awal tahun ini saja sudah tercatat ratusan kasus suspek dengan puluhan kasus yang telah terkonfirmasi, termasuk di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman. Namun demikian, situasi ini masih dapat dikendalikan dan terus dipantau,” ujar dr. Bambang.

Penyebab utama dari melonjaknya kasus campak di DIY tak lepas dari masih adanya kelompok anak yang belum mendapatkan imunisasi secara lengkap.

Masalah ini merupakan imbas dari penundaan jadwal imunisasi dasar selama masa pandemi yang lalu, yang kini diperparah oleh keraguan sebagian orang tua terhadap efektivitas dan keamanan vaksin.

“Faktor utama biasanya adalah cakupan imunisasi yang belum merata. Masih ada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, ditambah adanya penundaan imunisasi pada masa pandemi, serta sebagian orang tua yang masih ragu terhadap vaksinasi. Ketika ada kelompok anak yang tidak terlindungi atau tidak tervaksinasi, virus campak akan sangat mudah menyebar karena penyakit ini memang sangat menular,” jelas dr. Bambang.

Waspadai Gejala Klinis dan Komplikasi

Sebagai penyakit infeksi yang sangat menular, gejala awal campak sering kali mengecoh karena menyerupai penyakit infeksi saluran pernapasan biasa.

Gejala klinis umumnya diawali dengan demam tinggi, batuk dan pilek, mata merah, ruam kemerahan pada kulit yang muncul setelah beberapa hari, bermula dari area wajah kemudian menyebar ke seluruh tubuh.

Tanpa penanganan yang tepat, campak dapat berujung pada kondisi yang membahayakan nyawa anak.

“Campak juga dapat menimbulkan berbagai komplikasi, terutama pada bayi dan anak dengan daya tahan tubuh yang rendah. Komplikasi tersebut dapat berupa infeksi saluran pernapasan, dehidrasi, diare berat, hingga gangguan pada sistem kekebalan tubuh,” tambahnya.

Meski tingkat penularannya tinggi, campak merupakan penyakit yang sangat dapat dicegah. Upaya pencegahan paling efektif dan terbukti secara medis adalah melalui pemberian imunisasi campak, baik melalui vaksin MR maupun MMR, secara lengkap dan tepat waktu.

Untuk mengatasi kesenjangan cakupan imunisasi, dr. Bambang menekankan perlunya edukasi masif guna meluruskan berbagai misinformasi terkait vaksin yang masih kerap beredar di tengah masyarakat.

“Strateginya adalah memberikan edukasi secara konsisten kepada masyarakat. Pemerintah dan tenaga kesehatan bekerja melalui puskesmas, rumah sakit, posyandu, serta sekolah untuk menyampaikan informasi yang benar mengenai manfaat dan keamanan imunisasi. Pendekatan ini penting untuk mengatasi misinformasi yang masih beredar di masyarakat,” tuturnya.

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved