Mahasiswa UAJY Tembus Final Global YDTC : Hadirkan Solusi Banjir Berbasis AI

Dua mahasiswa UAJY berhasil melaju hingga tahap final dalam ajang Youth Development for Climate Change (YDTC)

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Dua mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Chaterina Olivia Putri Sugiarto dan Yonatan Adi Cahyoningrat (angkatan 2023), berhasil melaju hingga tahap final dalam ajang Youth Development for Climate Change (YDTC). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dua mahasiswa Program Studi Informatika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Chaterina Olivia Putri Sugiarto dan Yonatan Adi Cahyoningrat (angkatan 2023), berhasil melaju hingga tahap final dalam ajang Youth Development for Climate Change (YDTC).

YDTC adalah sebuah program internasional yang didukung oleh Meta dan diselenggarakan oleh Sustainable Living Lab. Showcase final dilaksanakan pada 27–29 Maret 2026 di Singapura.

YDTC merupakan program bergengsi yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara untuk mengembangkan solusi inovatif terhadap tantangan perubahan iklim melalui rangkaian seleksi ketat dan pembinaan intensif selama sekitar delapan bulan.

Dalam program ini, peserta tidak hanya ditantang secara teknis, tetapi juga diasah dalam kolaborasi lintas budaya dan pengembangan solusi berbasis teknologi yang aplikatif.

Chaterina dan Yonatan tergabung dalam tim internasional yang terdiri dari lima mahasiswa dari Indonesia (UAJY), Singapura, dan India.

Kolaborasi lintas negara ini menjadi kekuatan utama dalam merancang solusi yang mampu menjawab permasalahan nyata dengan pendekatan yang lebih komprehensif.

Baca juga: Kolaborasi Tim Dosen FTB FISIP UAJY Wujudkan Program Living Lab Lewat Hibah Bestari Saintek

Tim tersebut mengembangkan sebuah aplikasi bernama FloodSafe, yaitu platform berbasis teknologi yang dirancang untuk membantu mitigasi risiko banjir. Aplikasi ini dilengkapi dengan fitur:

  • Deteksi titik rawan banjir berbasis peta.
  • Sistem peringatan dini (early warning system).
  • Rekomendasi rute aman dengan berbagai opsi perjalanan.
  • Integrasi data cuaca dari sumber resmi.

Fitur pelaporan berbasis komunitas (flood report) yang diverifikasi oleh admin untuk memastikan akurasi informasi.

“Proyek ini berangkat dari permasalahan nyata, yaitu banjir di India. Kami mencoba menghadirkan solusi dalam bentuk aplikasi yang dapat mendeteksi potensi banjir, memberikan peringatan dini, serta membantu pengguna menentukan rute yang lebih aman,” ujar Chaterina.

Di balik capaian tersebut, proses pengembangan tidak lepas dari berbagai tantangan. Perbedaan zona waktu, hambatan komunikasi lintas budaya, hingga kompleksitas teknis dalam mengolah data dan membangun sistem berbasis API serta kecerdasan buatan menjadi bagian dari dinamika yang harus dihadapi tim.

Yonatan menambahkan bahwa pengalaman ini menjadi pembelajaran penting, terutama dalam mengintegrasikan ide ke dalam sistem yang dapat diimplementasikan secara nyata. “Tantangan terbesar adalah menerjemahkan ide menjadi sistem yang benar-benar berjalan, terutama saat mengolah data cuaca dan menentukan logika sistem. Selain itu, koordinasi tim lintas negara juga menjadi tantangan tersendiri,” jelasnya.

Keikutsertaan dalam program ini tidak hanya memberikan pengalaman kompetitif di tingkat internasional, tetapi juga membuka peluang kolaborasi global serta pengembangan solusi berkelanjutan. Ke depan, mereka berharap aplikasi yang dikembangkan dapat terus disempurnakan dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

“Harapannya, aplikasi ini tidak berhenti di sini, tetapi bisa terus dikembangkan dan digunakan secara nyata oleh masyarakat, bahkan diperluas ke berbagai wilayah lain,” tutup Yonatan. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved