Intip Perawatan "Batu Aji", Sapi 1 Ton Asal Magelang yang Dibeli Presiden Prabowo Seharga Mobil

Sapi raksasa bernama "Batu Aji" terpilih menjadi sapi kurban Presiden Prabowo yang akan disembelih di wilayah Sawitan pada Iduladha mendatang

Tayang:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Yuki Pramudya
SAPI PRESIDEN - Sapi Asal Lereng Gunung Merapi–Merbabu Magelang bernama 'Batu Aji' yang dibeli Presiden Prabowo Subianto untuk Iduladha 1447 H/2026. 
Ringkasan Berita:
  •  "Batu Aji", sapi jenis simental seberat 1,053 ton milik Sapari (peternak Magelang), resmi terpilih menjadi hewan kurban Presiden Prabowo seharga Rp126 juta.
  • Sapi berusia 3,5 tahun ini dirawat selama 17 bulan di lereng Merapi-Merbabu dengan pakan khusus dan kasih sayang, hingga mencapai postur besar dan kondisi fisik prima.
  • Keberhasilan ini menjadi bukti kualitas peternakan rakyat di Magelang dan memotivasi peternak lain untuk menghasilkan ternak unggul yang diakui secara nasional.

 

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Sapi raksasa bernama "Batu Aji" terpilih menjadi sapi kurban Presiden Prabowo yang akan disembelih di wilayah Sawitan pada momen Iduladha mendatang.

Sapi milik Sapari, peternak sapi asal Dusun Pluntungan, Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang itu memiliki ukuran badan yang sangat jumbo.

Beratnya 1 ton 53 kilogram, sangat besar untuk ukuran ternak sapi.

Batu Aji resmi dibeli pemerintah untuk sapi kurban Presiden Prabowo seharga Rp 126 juta.

Sapi jumbo milik Sapari ini berjenis simental, dengan ciri khas bulu berwarna cokelat dan kepala berwarna putih.

Sapari memelihara Batu Aji selama 17 bulan.

Perawatan yang maksimal membuat sapi jumbo yang dipelihara di kawasan lereng Merapi-Merbabu itu tumbuh sehat.

Sapari pun tak bisa menyembunyikan kebahagiaanya setelah " Batu Aji" resmi terpilih menjadi sapi kurban Presiden Prabowo.

Umur Batu Aji sekitar 3,5 tahun.

Sapari mengaku sapi berukuran jumbo miliknya tersebut dibelinya di Pasar Jelok Boyolali saat berusia 2 tahun.

Saat itu " Batu Aji" dibeli seharga Rp 42,65 juta.

“Dulu saya beli usia sekitar dua tahun di Pasar Jelok Boyolali. Alhamdulillah sekarang sudah mencapai berat 1 ton 53 kilo,” ujarnya.

Sesampai di rumah, sapi yang dibeli dari pasar itu diberi nama Batu Aji.

Sapari memiliki alasan khusus memberi sapi jenis simetal tersebut dengan Batu Aji.

Sesuai dengan namanya, sapi tersebut sangat berharga dan memiliki tempat istimewa di hatinya.

“Itu sapi saya beri nama Batu Aji karena bagi saya sapi itu sangat berharga. Dari awal masuk kandang sampai sekarang sehat terus dan mudah dirawat,” katanya.

Menurut Sapari, perawatan Batu Aji hampir sama dengan sapi-sapi lain yang dipeliharanya.

Dalam sehari, Batu Aji mendapat pakan comboran dua kali yang terdiri dari ampas tahu, konsentrat, dan bekatul.

Selain itu, sapi juga diberi hijauan serta tambahan singkong.

“Pagi dan sore dicombor. Setelah itu dikasih rumput sama hijauan. Kalau cuaca bagus biasanya dimandikan juga,” jelasnya.

Menurut Sapari, kondisi lingkungan pegunungan yang sejuk membuat perawatan sapi harus lebih telaten, terutama menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan tidak stres.

“Kalau umurnya Batu Aji diperkirakan sekitar tiga setengah tahun dan bisa dibilang masuk kategori sapi unggulan dengan postur besar serta kondisi fisik prima,” Imbuhnya.

Tak hanya jaminan pakan, kasih sayang yang diberikan kepada sapinya membuat Batu Aji berkembang dengan baik hingga beratnya bisa lebih dari 1 ton.

Baca juga: Update Harga Emas Antam, Galeri24 dan UBS Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026

Tak Menyangka jadi Sapi Kurban Presiden

Sapari mengaku Batu Aji terpilih menjadi sapi kurban Presiden Prabowo bermula saat dirinya mendapatkan informasi dari rekannya bernama Slamet.

Saat itu Slamet memberitahu dirinya kalau Presiden Prabowo tengah mencari sapi kurban yang berukuran jumbo, beratnya di atas 1 ton.

Keberadaan Batu Aji kemudian disampaikan oleh Slamet kepada Dinas Peternakan Kabupaten Magelang.

Setelah melalui proses pemeriksaan, akhirnya Batu Aji resmi dibeli pemerintah menjadi sapi kurban Presiden Prabowo seharga Rp 126 juta.

“Teman saya bilang ada pencarian sapi satu ton dari dinas. Kalau cocok nanti dibeli. Ternyata benar-benar jadi untuk kurban Presiden,” tuturnya.

Sapari mengaku bangga dan terharu karena hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun beternak akhirnya mendapat apresiasi besar. Ia merasa usahanya sejak 2011 perlahan membuahkan hasil.

“Saya sekeluarga senang sekali. Alhamdulillah bisa merawat sapi sampai sehat dan bobotnya lebih dari satu ton, lalu dibeli untuk kurban Presiden,” ungkapnya.

Meski harga jual mencapai Rp126 juta, Sapari mengaku keuntungan yang diperoleh tetap harus diperhitungkan dengan biaya perawatan yang cukup besar, mulai dari pakan hingga menjaga kesehatan ternak.

Menurutnya, usaha ternak sapi bukan pekerjaan mudah.

Selain membutuhkan modal besar, peternak juga harus menghadapi berbagai tantangan seperti wabah PMK, LSD, hingga naiknya harga pakan.

“Peternak sekarang harus benar-benar bertahan. Risiko besar, tapi ya sekalian seperti nabung,” katanya.

Saat ini Sapari masih memelihara tujuh ekor sapi jantan di kandangnya. Sebagian bahkan sudah dipesan pembeli dari berbagai daerah, termasuk Masjid Jogokariyan dan Kendal.

Rencananya, Batu Aji akan dikirim pada hari pelaksanaan Salat Iduladha menuju lokasi penyerahan di wilayah Sawitan.

Bagi Sapari, pencapaian ini menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan usaha ternaknya di lereng Merapi-Merbabu.

Rasa bangga tak hanya dirasakan oleh Sapari saja, namun juga dari Wakil Bupati Magelang Sahid.

‎“Sapi jenis Simmental bernama “Batu Aji” milik Sapari tersebut memiliki bobot mencapai 1 ton 53 kilogram dan telah dinyatakan memenuhi kriteria kesehatan maupun kualitas untuk hewan kurban presiden,” Jelas Sahid saat dihubungi Kamis (15/05/2026).

‎‎Sahid menilai keberhasilan itu menjadi bukti bahwa peternak lokal di Kabupaten Magelang mampu menghasilkan ternak berkualitas unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional.

‎“Kami sangat bangga karena sapi dari peternak Kabupaten Magelang bisa dipercaya menjadi hewan kurban Presiden. Ini menunjukkan kualitas peternakan rakyat di Magelang sangat baik,” ujar  Sahid.

‎‎Menurutnya, proses pencarian sapi kurban presiden dilakukan dengan seleksi ketat, mulai dari bobot, kesehatan hewan, usia, hingga kondisi fisik secara keseluruhan.

Batu Aji dinilai memenuhi seluruh syarat tersebut.

‎Selain memiliki bobot di atas satu ton, sapi tersebut juga dalam kondisi sehat, aktif, dan mendapatkan perawatan intensif dari peternaknya.

‎Sahid menyebut keberhasilan Sapari menjadi motivasi besar bagi peternak lain agar terus meningkatkan kualitas ternak melalui perawatan yang baik dan menjaga kesehatan hewan secara rutin.

‎“Peternak di Magelang sebenarnya punya potensi besar. Tinggal bagaimana menjaga kualitas pakan, kesehatan ternak, dan manajemen pemeliharaannya,” lanjutnya.

‎‎Nantinya, lanjut Sahid, Dinas Peternakan Kabupaten Magelang akan melakukan pendampingan kesehatan terhadap sapi kurban presiden hingga hari pengiriman.

Pemeriksaan rutin dilakukan untuk memastikan kondisi sapi tetap prima menjelang penyerahan pada Hari Raya Iduladha.

‎Selain itu, Sahid juga mengapresiasi ketelatenan Sapari yang dinilai konsisten merawat ternaknya sejak awal.

Keberhasilan menghasilkan sapi berbobot lebih dari satu ton tidak bisa diperoleh secara instan, melainkan membutuhkan pengalaman, kedisiplinan, dan ketekunan tinggi.

‎“Selama ini Kabupaten Magelang memang dikenal memiliki potensi peternakan sapi yang cukup besar, khususnya di kawasan lereng Merapi dan Merbabu yang didukung kondisi alam sejuk dan ketersediaan pakan hijauan melimpah,” pungkasnya. (*)

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved