Kisah Pohon Pelem dan Poh yang "Menikah" Menjadi Nama Dusun di Bantul

Nama Padukuhan Gunting di Bantul berasal dari fenomena alam unik, yakni pohon mangga dan pohon poh yang tumbuh bersilangan

Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
Suasana Padukuhan Gunting, Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (24/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Nama Padukuhan Gunting di Bantul berasal dari fenomena alam unik, yakni pohon mangga dan pohon poh yang tumbuh bersilangan menyerupai bentuk gunting di area Sendang Pelempoh.
  • Konon, wilayah ini menjadi tempat persembunyian prajurit Pangeran Diponegoro yang melarikan diri dari Goa Selarong saat diburu Belanda pada tahun 1825.
  • Meski tidak ada dokumen tertulis, sejarah ini dijaga secara turun-temurun oleh warga. Kini, Padukuhan Gunting dihuni sekitar 950 jiwa.

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Padukuhan Gunting, sepintas seperti teringat dengan nama benda. Padukuhan yang berada di Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta ini ternyata menyimpan kisah yang unik. 

Dukuh Gunting, Tumilan, menyampaikan, konon terdapat prajurit yang bersembunyi saat perang Diponegoro tahun 1825. Tadinya, prajurit itu berada di Goa Selarong, namun lari dikarenakan hendak ditangkap Belanda.

"Prajurit itu kan menyebar. Ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan. Nah yang ke selatan itu ke arah sini (Padukuhan Gunting). Ini kan pegunungan semua," ucapnya, Jumat (24/4/2026).

Prajurit itu ada yang bersembunyi dan bertempat tinggal di Sendang Pelempoh. Lokasinya kini berada di pinggir jalan Utama Padukuhan Gunting.

Kebetulan, di sendang tersebut ada pohon poh atau yang kini dikenal dengan nama pohon jangkang dan pohon pelem atau pohon mangga. 

"Dua pohon itu bentuknya bersilangan seperti gunting. Saat itu belum menjadi jalan. Itu hanya jalan setapak, tetapi pohon poh dan pohon pelem bersilangan," ujar dia.
 
Belum lagi, ada mbah cikal bakal yakni Mbah Selarong dan Mbah Pelem Poh. Dari situ, kemudian nama Padukuhan Gunting muncul.

"Jadi, pohonnya hanya di satu lokasi itu saja. Ada pohon gede, pohon besar, tapi yang bersilangan kayak gunting dan menyilang ke atas," jelasnya.

Baca juga: Jogja Financial Festival 2026 Jadi Medium Strategis Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan di DIY

Ia pun tidak bisa memastikan nama Padukuhan Gunting akhirnya bisa muncul pada tahun berapa.

Bahkan, cerita asal usul Padukuhan Gunting itu pun didapat secara turun temurun. 

"Jadi, saya tidak mempunyai sumber yang jelas ya. Dalam artian penamaan Padukuhan Gunting ini diketahui berdasarkan cerita sesepuh atau orang yang terdahulu di padukuhan ini," terang Tumilan.

Sampai saat ini belum ada catatan sejarah atau dokumen yang menyimpan tentang sejarah asal usul nama Padukuhan Gunting.

"Tapi, sebagai generasi saat ini, ya kita mengikuti apa yang diceritakan oleh para senior bahkan sudah sepuh-sepuh," ucap dia.

Kini, Padukuhan Gunting dihuni sekitar 950-an jiwa atau sekitar 360 KK. Mata pencarian mereka pun beragam, namun mayoritas bekerja sebagai buruh, berkebun, tani, hingga pelaku UMKM.

"Kebetulan tahun 1980, di sini (Padukuhan Gunting) banyak yang buruh batik. Mereka ke kota untuk membatik. Berangkat pagi, sore pulang," jelasnya.(nei)
 

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved