PSLB INSTIPER Yogyakarta dan CIRAD Dorong Skema Smart Agroforestry
Langkah ini diambil guna menjawab tantangan lonjakan permintaan global terhadap kakao berkualitas tinggi dan berkelanjutan yang terus meningkat
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pusat Sains Lanskap Berkelanjutan (PSLB) INSTIPER Yogyakarta bersama CIRAD terus memperkuat langkah transformasi sektor kakao nasional.
Langkah ini diambil guna menjawab tantangan lonjakan permintaan global terhadap kakao berkualitas tinggi dan berkelanjutan yang terus meningkat.
Pasalnya, saat ini produktivitas kakao Indonesia dinilai masih stagnan dan belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pasar secara optimal.
Berdasarkan data yang dihimpun Direktorat Jenderal Perkebunan, produktivitas kakao nasional terkini masih berada di kisaran 0,5–0,8 ton per hektare.
Angka tersebut terpaut jauh dari potensi optimal di atas 1,5 ton per hektare, dan diperparah dengan fakta lebih dari 90 persen dihasilkan oleh petani kecil.
Para petani tersebut, kerap berhadapan dengan masalah penuaan tanaman, serangan hama, serta keterbatasan akses terhadap pembiayaan dan teknologi.
Menanggapi situasi ini, PSLB INSTIPER dan CIRAD menginisiasi program INDOKAKAO, yang difokuskan pada penguatan budidaya berkelanjutan dan peningkatan rantai nilai sejak diluncurkan September 2025 lalu.
Baca juga: BOB Perkuat Standar Hospitality Borobudur Highland, Siapkan Pelayanan Kelas Dunia di Menoreh
Fokus Utama
Salah satu fokus utamanya adalah penerapan pendekatan smart agroforestry, yakni sistem budidaya yang mengintegrasikan tanaman kakao dengan pohon pelindung maupun komoditas lain untuk memperkuat ketahanan ekologis dan ekonomi petani.
Direktur PSLB INSTIPER, Agus Setyarso, menekankan pentingnya pendampingan langsung bagi para petani agar inovasi yang ditawarkan bisa memberikan dampak nyata.
“Lewat program INDOKAKAO, kami memastikan petani tidak hanya dilatih, tetapi didampingi agar inovasi benar-benar diterapkan dan berdampak pada peningkatan produktivitas,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).
Sebagai langkah konkret, PSLB INSTIPER telah menyelenggarakan pelatihan intensif pada 14–17 April 2026 silam, di KP2 INSTIPER Ungaran, Semarang.
Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari penyuluh, fasilitator Perhutanan Sosial, hingga pemimpin kelompok tani dipersiapkan untuk menjadi aktor kunci perubahan di tingkat tapak.
Program ini juga mendapat dukungan penuh dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dalam aspek pembiayaan dan pemberdayaan usaha petani, khususnya bagi kaum perempuan.
Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, menyatakan komitmennya dalam mendukung kemandirian ekonomi para petani yang menjadi nasabah PNM Mekaar.
“Melalui pembiayaan dan penguatan kemandirian ekonomi, para petani perempuan yang tergabung sebagai nasabah PNM Mekaar akan mendapatkan pelatihan yang dapat mendukung keberlanjutan usaha mereka,” katanya.
Dengan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pakar riset global dari CIRAD, Bappenas, hingga Kementerian Kehutanan, program INDOKAKAO diharapkan mampu mereposisi Indonesia.
Target besarnya adalah mengubah citra Indonesia dari sekadar produsen volume menjadi pemain utama kakao berkelanjutan bernilai tinggi di pasar premium global melalui visi “Smart Forests, Premium Cocoa.” (*)
| Akselerasi Infrastruktur Pertanian, TMMD Sengkuyung Tahap II 2026 di Bantul Resmi Dimulai |
|
|---|
| Nur Kholis Majid Gagas Program PKS, Fokus Garap Pertanian Modern hingga Penataan Pansela Bantul |
|
|---|
| Suhu Ekstrem saat Pancaroba Ancam Produksi Pangan Nasional, Padi dan Jagung Paling Rentan |
|
|---|
| El Nino Mengancam, Kerentanan Lahan Pertanian di Gunungkidul Jadi Atensi Utama DIY |
|
|---|
| El Nino 'Godzilla' 2026 Mengancam, Pemda DIY Siapkan Strategi Berlapis Amankan Sektor Pertanian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20262304-Kerjasama-Instiper-dan-CIRAD.jpg)