Plastik Kian Mahal, Pelaku Usaha di Sleman 'Pusing' Atur Strategi, Berharap Harga Kembali Normal

Kenaikan harga ini bukan sekadar angka, melainkan hantaman bagi rantai ekonomi usahanya, mulai dari distributor yang menuntut bayaran

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
BERHARAP HARGA NORMAL: Pedagang Plastik di Sleman, Budi Utomo berada di tokonya di wilayah Jaban, Tridadi, Kabupaten Sleman. Ia berharap harga plastik bisa kembali normal untuk kelancaran usahanya. 
Ringkasan Berita:
  • Harga plastik di Sleman naik tajam, terutama cup plastik dari Rp14.500 menjadi Rp22.000.
  • Kenaikan membuat modal pedagang meningkat dan distributor kini mewajibkan pembayaran tunai.
  • Penyebab diduga karena gangguan pasokan bahan baku impor akibat konflik global.
  • Pembeli mengurangi pembelian dan pelaku UMKM mulai terdampak meski belum semua menaikkan harga.

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Rak-rak plastik di toko milik Budi di wilayah Tridadi, Kabupaten Sleman kini tampak berbeda bagi para pelanggannya. Wadah cup es yang biasanya ditebus dengan lembaran belasan ribu rupiah, kini melesat menyentuh angka Rp22.000 per renceng. 

Kenaikan yang terjadi pasca-idulfitri ini bukan sekadar angka, melainkan hantaman bagi rantai ekonomi usahanya, mulai dari distributor yang menuntut bayaran tunai, hingga pembeli yang terpaksa memangkas jumlah belanjaannya.

Pengeluaran modal lebih besar

Pedagang plastik di Sleman, Budi Utomo mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik terjadi hampir di semua jenis namun paling signifikan pada wadah plastik jenis cup atau gelas plastik yang ramai pembeli. Satu renceng isi 50 cup yang semula dijual seharga Rp14.500, kini melambung menjadi Rp22.000. Begitu juga dengan wadah kantong kresek yang melonjak naik dari Rp8.000 menjadi Rp10.000 per pack.

"Hampir semua plastik naik. Dari segi omzet jelas berpengaruh banget. Pengeluaran untuk modal sekarang juga jauh lebih besar dari biasanya," keluh Budi, ditemui di tokonya, Senin (6/4/2026). 

Selain lonjakan harga, pedagang kini dihadapkan pada sistem pembayaran yang memberatkan. Jika sebelumnya beberapa barang bisa dibayar dengan sistem tempo, kini distributor mewajibkan pembayaran tunai atau cash karena keterbatasan stok.

Berharap harga normal kembali

Budi tidak tahu pasti mengapa harga plastik melambung tinggi. Namun berdasarkan informasi dari distributor, kenaikan ini dipicu oleh terhambatnya pengiriman biji plastik impor akibat dampak perang global yang mengganggu jalur logistik. 

"Harapannya sih harga kembali ke harga semula. Misalnya, harga diturunkan supaya usaha bisa jalan. Karena saya baru merintis usaha toko plastik ini satu tahun, tapi tahu-tahu harganya naik semua. Pusing toh," ujarnya

Kenaikan harga ini juga mengubah pola konsumsi pelanggan. Kata Budi, banyak pembeli yang biasanya memborong 2-3 renceng plastik cup, kini hanya membeli satu renceng. Ia juga mengatur strategi belanja sedikit demi sedikit. Hal ini terpaksa harus diambil untuk menyiasati modal yang terbatas.

Di sisi lain, dampak kenaikan ini mulai merembet ke pelaku UMKM kuliner. Nando, seorang pedagang es rasa buah yang menggunakan kemasan cup, mengaku mulai merasakan kenaikan biaya operasional. Meskipun cup selama ini disuplai dari juragannya. Dalam sehari, ia menghabiskan sedikitnya 50 cup plastik. Saat ini meski harga wadah plastik naik tajam, Nando mengaku belum menaikkan harga jual dagangannya. 

"Saat ini harga masih stabil. Belum ada arahan untuk menaikan harga," katanya.(*)  

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved