Pemkot Yogyakarta Perpanjang Status Siaga Darurat Bencana sampai 31 Maret 2026

Pemkot Yogyakarta secara resmi memperpanjang status siaga darurat bencana banjir, talud longsor, dan cuaca ekstrem. 

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Dok. BPBD Kota Yogyakarta
POHON TUMBANG - Proses evakuasi pohon tumbang di area parkir Pasar Ngasem, Kota Yogyakarta, Selasa (10/3/26) sore. Pemkot Yogyakarta secara resmi memperpanjang status siaga darurat bencana banjir, talud longsor, dan cuaca ekstrem.  

Ringkasan Berita:
  • Pemkot Yogyakarta resmi memperpanjang status siaga darurat bencana banjir, talud longsor, dan cuaca ekstrem. 
  • Keputusan ini diambil menyusul potensi ancaman bencana hidrometeorologi yang diprediksi masih akan membayangi wilayah Kota Pelajar.
 

 


TRIBUNJOGJA.COM, ​YOGYA - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta secara resmi memperpanjang status siaga darurat bencana banjir, talud longsor, dan cuaca ekstrem. 

Langkah ini diambil menyusul potensi ancaman bencana hidrometeorologi yang diprediksi masih akan membayangi wilayah Kota Pelajar.

​Keputusan tersebut tertuang dalam Keputusan Wali Kota Yogyakarta Nomor 135 Tahun 2026 yang ditandatangani oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. 

Dalam poin keputusannya, status siaga darurat bencana hidrometeorologi berlaku terhitung mulai tanggal 1 Maret sampai dengan 31 Maret 2026.  

​Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta, Darmanto, menyebut perpanjangan ini merupakan langkah antisipasi berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG. 

​"Kondisi cuaca saat ini masih berada pada periode musim hujan dengan potensi hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang. Hal ini sangat berpotensi memicu bencana hidrometeorologi," ujarnya, Selasa (10/3/26).

​Bukan tanpa alasan, berdasarkan data yang dihimpun oleh BPBD, tercatat tren kejadian bencana di Kota Yogyakarta cukup tinggi sepanjang periode awal tahun. 

Terhitung, sejak bulan Januari hingga permulaan Maret 2026 ini, setidaknya sudah terjadi puluhan insiden kebencanaan yang terlaporkan.

​"Total ada 98 kejadian. Paling banyak didominasi oleh dampak cuaca ekstrem, seperti pohon tumbang, dahan patah, hingga atap rumah yang roboh," imbuhnya.

Jogja berisiko spesifik

​Darmanto menjelaskan, sebagai wilayah perkotaan yang dilintasi sungai-sungai besar seperti Sungai Code, Winongo, dan Gajah Wong, Kota Yogyakarta memiliki risiko spesifik. 

Permukiman di bantaran sungai praktis jadi titik yang paling diwaspadai terhadap ancaman luapan air maupun longsor pada talud sungai jika terjadi hujan lebat di wilayah hulu.

​Selain itu, kawasan dengan kepadatan pohon besar dan jalan protokol turut menjadi perhatian akibat risiko pohon tumbang saat angin kencang menerjang.

"Namun, secara umum kondisi di Kota Yogyakarta masih relatif terkendali karena sistem drainase, pemantauan sungai, serta kesiapsiagaan masyarakat sudah cukup baik," ujarnya.

Melalui Keputusan Wali Kota ini, Kepala Pelaksana BPBD Kota Yogyakarta diinstruksikan untuk mengoordinasikan seluruh Perangkat Daerah guna menyusun program dan kegiatan antisipasi penanggulangan bencana selama masa siaga darurat.  

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved