Ramadan 2026
SPPG Margomulyo Sleman Layani MBG Kering dan Basah Saat Ramadan
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Margomulyo, Seyegan, Joni Prasetyo memastikan gizi pada Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap seimbang.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Kepala SPPG Margomulyo, Seyegan, Joni Prasetyo memastikan gizi pada Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap seimbang.
- Jjumlah penerima manfaat sebanyak 3.501, terdiri dari 2.967 siswa jenjang PAUD/TK hingga SMA/SMK, 281 guru dan tenaga kependidikan, dan 253 ibu hamil dan menyusui.
- Mereka tersebar di beberapa Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupateb Sleman.
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Margomulyo, Seyegan, Joni Prasetyo memastikan gizi pada Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap seimbang.
Joni mengatakan jumlah penerima manfaat sebanyak 3.501, terdiri dari 2.967 siswa jenjang PAUD/TK hingga SMA/SMK, 281 guru dan tenaga kependidikan, dan 253 ibu hamil dan menyusui. Tersebar di beberapa Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan.
Ia mengakui ada sedikit perbedaan antara MBG basah dan MBG kering. Mekanisme MBG basah dilakukan dengan dimasak di dapur SPPG dan didistribusikan dalam kondisi siap santap pada hari yang sama.
Sementara MBG kering berupa makanan bergizi seimbang yang lebih tahan simpan, dan didistribusikan dengan sistem pengemasan higienis.
“Berapa menu (MBG kering), kami masih tetap masak, misal ayam katsu, telur rebus. Menu MBG kering tetap mengacu pada prinsip gizi seimbang, misalnya sumber karbohidrat berupa biskuit fortifikasi atau roti gandum, protein berupa susu UHT, telur, keju, dan produk olahan protein,” katanya, Kamis (26/2/2026).
“Sumber vitamin dan mineral berupa buah segar. Kami mengupayakan produk lokal dan mengurangi UPF (ultra processed food). Buah dari petani lokal, misal belimbing, jeruk, jambu kristal, kelengkeng. Untuk roti, kami berkolaborasi dengan UMKM sekitar,” sambungnya.
Ia menerangkan penentuan menu MBG kering diseleksi ketat oleh ahli gizi SPPG Margomulyo, dan mengikuti standar yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional serta pedoman gizi seimbang nasional.
Asupan gizi harus cukup
Menurut dia, asupan gizi yang cukup sangat penting bagi pelajar, terutama dalam menjaga konsentrasi belajar, daya tahan tubuh, serta mencegah kelelahan berlebih selama ibadah puasa.
“Menu selama puasa dirancang untuk membantu pemulihan energi setelah seharian beraktivitas di sekolah. Kami memastikan menu yang diberikan tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mendukung kesehatan dan performa belajar anak-anak,” terangnya.
Menariknya, SPPG ini juga melayani sekolah yang menginginkan MBG basah untuk buka puasa. Namun, sekolah harus mengajukan tujuh hari sebelum distribusi. Hal itu karena berkaitan dengan penyusunan anggaran dan siklus menu.
“Ada juga sekolah request untuk buka puasa, jadi kami siapkan menu basah. Kami tidak keberatan, kami melayani dengan sepenuh hati. Secara teknis kami bisa melayani menu kering dan basah. Alhamdulillah komunikasi yang kami jalin dengan sekolah selama ini cukup baik,” pungkasnya.
Kepala BGN DIY jawab kritikan wali murid
Kepala Regional Badan Gizi Nasional (BGN) DIY, Gagat Widyatmoko, menegaskan komitmennya untuk memperkuat transparansi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Itu menanggapi sorotan publik dan warganet terhadap menu MBG kering yang dibagikan selama Ramadan 2026 ini.
Ia memastikan penyertaan informasi harga pada setiap paket MBG akan segera dijalankan sebagai bagian dari upaya menjaga akuntabilitas dan kepercayaan masyarakat.
Sorotan terhadap program ini menguat setelah sejumlah keluhan warganet viral di media sosial.
Publik menyoroti paket MBG yang dibagikan di berbagai wilayah di Yogyakarta karena secara visual dinilai lebih menyerupai kotak kudapan untuk rapat ketimbang makanan padat gizi.
Dari foto-foto yang beredar, paket tersebut berisi telur rebus, buah seperti salak atau jeruk, onde-onde, aneka gorengan, roti keju, susu kotak, kurma, dan keripik tempe.
Komposisi ini memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian standar gizi serta nilai paket yang diterima para siswa.
Soal modifikasi menu
Modifikasi menu menjadi bentuk kering dilakukan sebagai penyesuaian selama bulan puasa.
Makanan sengaja dibagikan dalam bentuk kering agar dapat dibawa pulang dengan praktis untuk menu berbuka, mengingat para siswa menjalankan ibadah Ramadan.
Menanggapi perkembangan tersebut, Gagat menyatakan bahwa penyampaian informasi harga pada menu MBG selama Ramadan pada prinsipnya didukung penuh oleh pihaknya.
“Terkait penyampaian informasi harga pada menu MBG selama bulan Ramadan, pada prinsipnya kami mendukung penuh langkah transparansi tersebut,” ujarnya, Kamis (26/2/2026).
"Kebijakan ini sebenarnya merupakan bagian dari inisiatif BGN yang telah kami sampaikan dalam rapat koordinasi bersama Satgas MBG Provinsi DIY kemarin.
SPPG sertakan harga
Ia menegaskan, komitmen itu tidak berhenti pada tataran kebijakan.
“Oleh karena itu, BGN Regional DIY tentu saja berkomitmen untuk melaksanakan kebijakan dimaksud dan telah menginstruksikan kepada seluruh jajaran SPPG agar segera menindaklanjuti serta mengeksekusi penyertaan informasi harga pada paket MBG Ramadan sesuai ketentuan yang berlaku,” kata Gagat.
Menurut dia, langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat akuntabilitas pelaksanaan program di lapangan sekaligus menjawab keraguan publik yang berkembang.
“Kami berharap langkah ini dapat meningkatkan akuntabilitas sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap pelaksanaan Program MBG,” ujarnya.
Dengan penambahan informasi harga pada setiap paket, BGN Regional DIY berupaya memastikan pelaksanaan MBG tetap berjalan sesuai tujuan awalnya, yakni menyediakan asupan gizi yang layak bagi para siswa, sembari merespons evaluasi dan perhatian masyarakat secara terbuka.
Sultan HB X turun tangan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta tengah menjadi sorotan publik.
Niat untuk menyediakan asupan gizi yang layak bagi para siswa harus berhadapan dengan realitas di lapangan.
Beberapa waktu terakhir, muncul keluhan dari masyarakat terkait tampilan dan komposisi menu kering yang dibagikan selama bulan Ramadan, yang dinilai kurang memenuhi ekspektasi kelayakan gizi.
Keresahan ini bermula dan mencuat luas setelah sejumlah keluhan warganet viral di media sosial.
Dalam unggahan tersebut, publik menyoroti pembagian paket MBG di berbagai wilayah di Yogyakarta yang secara visual lebih menyerupai kotak kudapan untuk rapat ketimbang makanan padat gizi.
Dari berbagai foto yang beredar di linimasa, paket makanan tersebut hanya berisi telur rebus, buah seperti salak atau jeruk, onde-onde, aneka gorengan, roti keju, susu kotak, kurma, dan bahkan keripik tempe.
Modifikasi menu menjadi bentuk kering ini diketahui dilakukan sebagai bentuk penyesuaian.
Mengingat para siswa sedang menjalankan ibadah puasa, makanan sengaja dibagikan dalam bentuk kering agar dapat dibawa pulang dengan praktis untuk menu berbuka.
Namun, modifikasi tersebut memunculkan tanda tanya besar mengenai standar gizi dan nilai paket yang diterima siswa.
Penanggung jawab MBG dipanggil
Merespons dinamika dan keresahan publik yang terus berkembang, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X segera mengambil langkah evaluasi.
"Saya sudah meminta Sekretaris Daerah untuk memanggil penanggung jawab MBG, karena ada sejumlah pihak yang protes. Sepertinya materi atau kurang pas," ungkap Sri Sultan Hamengku Buwono X ditemui di Kompleks Kepatihan, Kamis (26/2).
Sultan menekankan bahwa program ini harus berjalan dengan akuntabilitas yang jelas, baik dari sisi kualitas gizi maupun transparansi nilai barang.
Evaluasi menyeluruh diminta agar asumsi-asumsi liar di tengah masyarakat dapat diredam dengan fakta yang terang.
"Jadi kami mengajukan syarat, tidak sekadar anggapannya ini harganya tidak Rp10.000. Harapannya, menu tersebut diperbaiki, termasuk kejelasan harganya," tegas Sultan.
"Dan mereka menyetujui hal tersebut. Misalnya, jika diberikan pisang, harus jelas berapa harganya supaya clear, Itu kesimpulannya.
Pada akhirnya, kejelasan rincian menu dan harga menjadi sebuah keharusan demi menjaga kepercayaan publik terhadap program ini.
"Sehingga, tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang membuat semua pihak merasa tidak nyaman. Itu saja," ujarnya.
Pakar UMY kritik menu MBG kering Ramadan
Pakar Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Dr. Merita Arini, MMR menilai menu MBG kering selama Ramadan kurang memenuhi gizi seimbang.
Beberapa paket MBG kering memang cukup memenuhi angka kecukupan energi, namun protein terbatas, dominan makanan manis atau berbasis tepung, kandungan lemak dan garam cukup tinggi.
Ada MBG yang memberikan roti, kacang bawang, kacang atom, telur asin, hingga keripik tempe.
“Program ini kan dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi ya, tetapi kalau dengan menu seperti itu, belum bisa memenuhi gizi seimbang,” katanya, Kamis (26/2/2026).
"Sebagian besar MBG kering berupa roti berbasis tepung atau karbohidrat sederhana. Memang praktis, umur simpan lebih lama, tapi dari perspektif gizi kurang ideal apabila terlalu dominan.
Ia menilai peran ahli gizi di masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sangat penting dalam menyusun menu MBG.
Menurut dia, ahli gizi juga perlu memadukan makanan tinggi natrium dengan makanan lain dalam satu paket MBG.
“Telur apapun itu kalau direbus saja nggak masalah, tetapi kalau berbentuk telur asin, tu kan kandungan natriumnya tinggi. Problemnya lagi nanti ada kacang bawang, keripik tempe, abon yang tinggi natrium, tinggi lemak. Perencanaan menu harus dievaluasi agar makanan tinggi natrium tidak berada dalam satu paket,” sambungnya.
MBG kering itu camilan
Menurut Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY itu, MBG kering yang diberikan selama Ramadan seperti camilan atau makanan pendamping.
Dengan demikian, perlu ada edukasi kepada keluarga penerima manfaat untuk menyediakan makanan sehat.
Jika MBG kering berkelanjutan, ia mendorong SPPG untuk berkolaborasi dengan UMKM sekitar yang bisa menyediakan menu dengan masa simpan lebih panjang.
“Kan ada UMKM yang bisa memasak daging atau sayuran yang di-vacum, tanpa pengawet. Nah, SPPG bisa berkolaborasi. Namun jika anggarannya tidak mencukupi, tentu SPPG juga harus mencari cara, mencari teknologi agar menu MBG ini tetap memenuhi gizi. Tentu ini hal yang harus dibicarakan oleh pemangku kebijakan di level atas,” terangnya.
“Atau misalnya fokus pada satu komponen gizi saja, misalnya protein. Misalnya diberikan telur rebus saja, atau mungkin MBG untuk satu minggu itu diganti dengan ayam utuh. Karena kan tidak semua masyarakat bisa membeli lauk berkualitas. Tentu ini butuh formulasi dan kajian dari pemangku kebijakan,” lanjutnya.
Merita mendorong adanya standar minimal MBG kering. Standar minimal tersebut mencakup target energi minimum, target protein minimum, minimal satu sumber protein berkualitas, minimal satu buah, dan komposisi seimbang.
Standar minimal ini penting untuk mengurangi kesenjangan mutu MBG antarwilayah.
Tak hanya itu, paket MBG juga mestinya dilengkapi informasi sederhana terkait tanggal produksi, batas konsumsi, cara penyimpanan, serta anjuran kebersihan tangan sebelum mengonsumsi.
MBG kering perlu dievaluasi
Pelaksanaan MBG kering selama Ramadan juga perlu dievaluasi secara khusus, mengingat mekanisme distribusi yang berbeda. Evaluasi tersebut mencakup kualitas menu, keamanan pangan, konsumsi aktual anak, dan penerimaan menu.
Dari kacamata kesehatan publik, sinergi lintas sektor penting, baik dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan lain-lain.
Sinergi hexahelix dibutuhkan untuk memperkuat kualitas MBG sebagai intervensi kesehatan masyrakat.
“Pelaksanaan MBG selama Ramadan menunjukkan bahwa program telah berupaya beradaptasi secara operasional, melalui pemberian makanan kemasan yang relatif praktis dan aman. Namun dari perspektif kesehatan masyarakat, tantangan utama MBG selama Ramadan bukan lagi pada distribusi makanan, tetapi pada konsistensi kualitas gizi dan keamanan pangan,” ujarnya.
“Keberhasilan MBG sebagai intervensi kesehatan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh jumlah paket yang dibagikan, tetapi sejauh mana paket tersebut benar-benar mampu mendukung pemenuhan gizi anak secara optimal. Keterlibatan lintas sektor harus terus didorong dan difasilitasi untuk memastikan MBG efektif dan berkesinambungan,” pungkasnya.
| Jadwal Buka Puasa Bantul DI Yogyakarta Hari Ini, Jumat 20 Maret 2026 |
|
|---|
| Jadwal Buka Puasa Sleman DI Yogyakarta Hari Ini, Jumat 20 Maret 2026 |
|
|---|
| Jadwal Buka Puasa Jogja DI Yogyakarta Hari Ini, Jumat 20 Maret 2026 |
|
|---|
| Jadwal Buka Puasa Sleman DI Yogyakarta Hari Ini, Kamis 19 Maret 2026 |
|
|---|
| Jadwal Buka Puasa Gunungkidul DI Yogyakarta Hari Ini, Kamis 19 Maret 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Siswa-menerima-MBG-basah-dari-SPPG-Margomulyo-untuk-buka-puasa-di-sekolah.jpg)