Human Interest Story
Cerita Santri Darul Ashom di Godean Sleman, Mengejar Cita-cita Jadi Pengajar Agama bagi Tunarungu
Pondok Pesantren Darul Ashom, pondok pesantren tunarungu pertama di Indonesia yang berlokasi di Sidomoyo, Godean, Sleman
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Suasana pondok pesantren di Sidomoyo, Godean, Sleman itu sunyi, meski ada sekitar 180 santri dan santriwati di dalamnya.
Jumat (20/2/2026) siang itu, para santri tengah duduk bersila di depan sebuah meja kecil. Ada Alquran di atas meja itu.
Mereka membaca Alquran itu dalam sunyi, menggunakan bahasa isyarat hijaiyah.
Mereka ialah santri dari Pondok Pesantren Darul Ashom, pondok pesantren tunarungu pertama di Indonesia.
Ahmad adalah salah satu santri yang belajar di Ponpes tersebut sejak 2022.
Pria asal Bali itu bercerita baru pertama kali belajar agama dan membaca Alquran di Darul Ashom.
Sebelumnya, ia sama sekali tidak mendapatkan pengetahuan soal agama dan Alquran, pun di sekolah.
“Dulu nggak pernah belajar agama, baru belajar agama pertama di sini (Ponpes Darul Ashom). Setelah belajar di sini, saya memiliki ilmu (agama) dan tambah yakin kepada Allah,” katanya saat ditemui, Jumat (20/2/2026).
Baca juga: Cerita Pilu Pak Dukuh Tenggelam di Sungai Ngreneng Setelah Selamatkan Dua Mahasiswi KKN
Di Ponpes yang didirikan oleh Abu Kahfi tersebut, Ahmad juga belajar bahasa isyarat hijaiyah.
Menurut dia, belajar bahasa isyarat hijaiyah cukup mudah.
“Saya dulu belajar Alquran pelan-pelan, sedikit-sedikit, gampang ternyata,” sambungnya.
Belajar hampir empat tahun, ia sudah hapal sekitar tiga juz.
Pria 21 tahun itupun akan terus belajar, dan kelak ingin mengajarkan ilmunya kepada tunarungu lainnya.
“Cita-cita saya mau jadi ustaz, mau mengajarkan (ilmu agama) kepada anak-anak tuli,” ujarnya.
Cerita Sang Pendiri
Pondok pesantren Darul Ashom didirikan pada 19 September 2019 di Srandakan, Bantul.
Kemudian pada tahun 2021 pindah ke Condongcatur, Sleman, dan pada September 2025 memiliki tempat baru di Sidomoyo, Godean, Sleman.
Sepuluh tahun sebelum mendirikan pondok pesantren di Yogyakarta, pendiri sekaligus pengasuh Darul Ashom, Abu Kahfi sudah menyiarkan agama Islam kepada anak tunarungu di Bandung.
Pada akhir tahun 2009, Abu bertemu dengan seorang tunarungu di Jakarta.
Kala itu ia kesulitan berkomunikasi karena tidak bisa bahasa isyarat.
Ia pun berkomunikasi dengan mengetik pesan di ponsel.
“Kemudian mendalami dunia mereka, ternyata mereka sama sekali tidak mendapatkan pendidikan agama. Kalau anak dari sekolah, dari masa belajar nggak mengenal agama, maka sangat berisiko ketika dewasa, blank sekali, nggak ada dasar sama sekali,” tuturnya.
Sekembalinya dari Jakarta, ia mencoba merangkul tuna rungu yang ada di Bandung, kota asalnya.
Tidak langsung mengajak belajar agama, ia justru mengajak latihan olahraga.
Ada sekitar 8 anak berkumpul untuk berolahraga bersama.
Satu bulan kemudian, ia mengajak anak-anak itu belajar agama di rumahnya.
Gayung bersambut, anak-anak itu datang dan antusias belajar.
Abu memang tidak bisa bahasa isyarat, namun karena sering berkomunikasi dengan tunarungu, ia bisa belajar.
“Ternyata kata mereka, baru ada ustaz yang mengajari agama buat saya. Jadi dari dulu enggak ada ustaz yang ngajarin agama. Dari situ, saya tambah mendalami dunia mereka,” lanjutnya.
Dari Dua Santri Kini Ratusan Santri
Dari situlah ia merasa perlu membuat madrasah untuk anak-anak tunarungu.
Setelah mengajar agama dari komunitas ke komunitas, akhirnya ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Ashom di Yogyakarta.
Awalnya, ia hanya menerima dua santri, kemudian semakin lama semakin bertambah, dan kini menjadi 180 santri dan santriwati.
Kini pondok pesantren yang ia besarkan menjadi pusat pembelajaran, bahkan dari luar negeri.
Warga dari Amerika Serikat, Bangladesh, Kazakhstan, Jerman, hingga Belanda ingin datang untuk melihat para santri.
Dalam pondok pesantren, para santri memang dibekali banyak hal, mulai dari pertanian, otomotif, dan lain-lain.
Namun, yang ditekankan di pondok pesantren adalah para santri memiliki kemampuan menjadi pengajar.
“Lulus dari sini harus jadi pengajar Alquran, pengajar agama. Karena di luar sana belum ada hafiz Alquran dari tunarungu, belum ada ustaz dari tunarungu, belum ada pengajar agama tunarungu. Mari kalian (santri) harus menyelamatkan dunia pendidikan di tunarungu. Jadi keterampilan pertama yang harus dipunyai setelah dari sini adalah jiwa mengajar,” pungkasnya.
( tribunjogja.com/ maw )
| Kisah Azizah, Bocah 6,5 Tahun di Kota Yogyakarta Cari Rongsok hingga Rawat Ayah Sakit |
|
|---|
| Kisah Mbah Kibar, Seniman Asli Bantul yang Berjuang Tebus Tanah Leluhur Lewat Goresan Kanvas |
|
|---|
| Kisah Santri Yaketunis Yogyakarta Menjemput Cahaya Alquran Lewat Titik-titik Braille |
|
|---|
| Kisah Aji Ramadan, Driver Ojol yang Lulus Cumlaude Sarjana Hukum UGM |
|
|---|
| Kisah Ryaas Amin, Mahasiswa UGM Biayai Kuliah Sendiri Sambil Jadi Driver Ojol |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Santri-di-Ponpes-Darul-Ashom-membaca-Alquran-dengan-bahasa-isyarat.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.