Ritual Doa Jadi Tanda Awal Perbaikan Area Makam Raja-Raja Mataram di Kotagede

KRT Purwodarmo Kartolo, mengatakan, iring-iringan doa tersebut menjadi rangkaian untuk melakukan pembenahan sejumlah bangunan

Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
Puluhan abdi dalem Keraton Ngayogyakarta sedang menggelar upacara doa untuk pembenahan Makam Raja-raja Mataram sekaligus Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Jumat (13/2/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Puluhan abdi dalem Keraton Ngayogyakarta berdoa di pendopo di halaman parkir Makam Raja-raja Mataram sekaligus Masjid Gedhe Mataram Kotagede
  • Doa menjadi rangkaian sebelum pembenahan sejumlah bangunan sekaligus pemangkasan pohon beringin yang berusia lebih dari 600 tahun.
  • Perbaikan dan pemangkasan dilakukan karena belum lama ini batang dan ranting pohon beringin patah menimpa sepeda motor, mobil, dan panggung tempat arisan warga setempat. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Puluhan abdi dalem Keraton Ngayogyakarta terlihat mengenakan pakaian adat dan menghaturkan doa di pendopo dekat pohon beringin di halaman parkir Makam Raja-raja Mataram sekaligus Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul, Jumat (13/2/2026).

Kawedanan Ageng Panitrapura Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, KRT Purwodarmo Kartolo, mengatakan, iring-iringan doa tersebut menjadi rangkaian untuk melakukan pembenahan sejumlah bangunan sekaligus pemangkasan pohon beringin yang sudah berusia lebih dari 600 tahun.

Doa sebelum rehab

Upacara pemberian doa itu pun selalu digelar setiap Keraton Ngayogyakarta memulai pengerjaan serupa.

"Adapun area yang direhab atau dimuliakan berupa area Sendang Putri yang di dalamnya berupa pembuatan saluran baru, perbaikan area halaman, dan area luar beteng sendang. Kemudian, pekerjaan di area halaman, sumur, dan kamar mandi Bangsal Duda," katanya, kepada wartawan usai prosesi doa digelar.

Selanjutnya, ada pemangkasan area pohon beringin yang terletak di dekat pintu parkir utama. Kemungkinan, tinggi pohon yang akan disisakan sekitar empat meter, agar pohon tersebut tetap hidup dan tidak mengkhawatirkan atau membahayakan orang lain di dekatnya. 

"Terus ada juga perbaikan pendopo parkir ini. Itu kan juga terdampak, ada plang-plang yang roboh. Jadi, kegiatan doa ini ditandai dimulainya pekerjaan yang saya sampaikan tadi. Doa itu meminta keselamatan, baik proses pekerjaannya tenaga kerjanya, agar tidak ada kendala," jelasnya.

Ranting pohon beringin patah

Menurutnya, rangkaian perbaikan itu juga dilakukan karena belum lama ini batang dan ranting pohon beringin berukuran besar patah. Patahan ranting beringin itu jatuh menimpa sepeda motor, mobil, dan panggung tempat arisan warga setempat. 

"Namun, dalam sosialisasi ini tidak melibatkan pihak luar, ini melibatkan abdi dalem dan pelaksana yang akan dilaksanakan," tutur KRT Purwodarmo.

Pengerjaan tersebut dimulai seusai upacara doa secara bertahap dikarenakan ada beberapa lokasi yang perlu dilakukan pembenahan. Demikian pula terkait pemangkasan pohon yang dilakukan secara bertahap.

Pengarso Makam Panembahan Senopati, KRT Hartonokusumo, menyampaikan, pohon beringin itu sebenarnya masih hidup usai beberapa waktu lalu patah. Namun ia merasa terheran-heran terhadap kejadian batang pohon yang patah pada Rabu (11/2/2026) lalu, sebab saat itu sedang dalam kondisi cuaca cerah.

"Yang heran itu ini. Enggak ada hujan, enggak ada angin, tahu-tahu itu (batang pohon beringin) runtuh. Tadinya, ada panggung-panggungan. (Kalau secara mistis pohon beringin itu patah dan menjadi pertanda apa) saya tidak tahu," tutup dia.(nei)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved