Kendalikan Risiko Leptospirosis, Dinkes Kota Yogya Perkuat Sistem Deteksi
Setiap pasien demam dengan faktor risiko langsung dipertimbangkan kemungkinan leptospirosis
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM - Jumlah kasus leptospirosis di Kota Yogyakarta sepanjang tahun 2025 tercatat mengalami peningkatan cukup signifikan.
Namun, kenaikan disebut bukan karena lonjakan penularan, melainkan sistem deteksi dan skrining di fasilitas kesehatan yang sudah lebih aktif.
Jumlah kasus
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Endang Sri Rahayu, berujar terdapat 34 kasus leptospirosis yang ditemukan pada 2025.
Ia pun tidak menampik, jumlah tersebut meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya, yang hanya terpantau 10 kasus saja.
"Peningkatan dipengaruhi kewaspadaan Puskesmas yang lebih tinggi. Sekarang, setiap pasien demam dengan faktor risiko langsung dipertimbangkan kemungkinan leptospirosis," ujarnya.
Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani, menambahkan, leptospirosis merupakan salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Leptospira.
Penyakit tersebut bersifat zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, di mana sejauh ini kasus paling sering dijumpai melalui tikus.
"Sehingga masyarakat kerap menyebutnya sebagai flu tikus. Tapi, bakteri ini juga bisa berasal dari hewan lain seperti babi, kuda, dan kambing," katanya.
Gejala awal
Anandi mengungkapkan, gejala awal leptospirosis seringkali dianggap sepele, sehingga banyak pasien yang akhirnya datang terlambat
Bukan tanpa alasan, gejala awal seperti demam, nyeri otot, hingga lemas, seringkali membuat pasien merasa tidak perlu mengakses fasilitas kesehatan.
Padahal, tambahnya, jika tidak segera ditangani, leptospirosis bisa berkembang hingga mengarah gagal ginjal, dan diperlukan tindakan cuci darah.
Fokus deteksi dini
Ia menegaskan, deteksi dini kini menjadi fokus utama, di mana Puskesmas melakukan skrining ketat pada pasien demam dengan riwayat paparan risiko.
"Metode pemeriksaan yang digunakan meliputi PCR yang efektif mendeteksi pada fase awal infeksi, lalu RDT yang lebih optimal setelah 7 hari demam, dan MAT sebagai pemeriksaan konfirmasi laboratorium," terangnya.
"Sampel pasien bisa dikirim ke laboratorium rujukan, termasuk Balai Besar Laboratorium Kesehatan. Semakin cepat ditangani, risiko komplikasi berat bisa dicegah," urai Anandi.
Adapun bakteri Leptospira masuk ke tubuh manusia lewat kulit yang luka atau terbuka, sampai melalui selaput lendir seperti hidung, mulut, dan mata.
Penularan biasanya terjadi ketika seseorang berkontak langsung dengan air, tanah, atau lingkungan yang tercemar urine hewan yang terinfeksi.
"Kelompok dengan risiko tinggi antara lain pekerja sawah, perkebunan, peternakan, rumah potong hewan petugas kebersihan," tandasnya.
"Masyarakat yang sering beraktivitas di lingkungan berisiko seperti genangan air hujan, banjir, area peternakan, lingkungan dengan populasi tikus tinggi, dan sanitasi buruk juga rentan terpapar," pungkas Anandi. (aka)
| Gelar Kerja Bakti Massal Tiap Jumat, Wali Kota Yogyakarta Instruksikan ASN Bawa Sapu hingga Arit |
|
|---|
| Jemaah Kloter I Masuk Hotel Asrama Haji DIY, Langsung Dapat Kartu Nusuk dan Uang Saku Rp 3,5 Juta |
|
|---|
| PKB DIY Angkat Sosok 'Kartini Nyata', Perjuangan Perempuan Inspiratif dari Berbagai Wilayah di DIY |
|
|---|
| Peringati Hari Kartini, Astra Motor Yogyakarta Edukasi Pengendara Wanita Soal Manajemen Emosi |
|
|---|
| ISI Yogyakarta Sambut 4.457 Peserta UTBK-SNBT 2026, Perketat Pengawasan Untuk Cegah Perjokian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/sebanyak-76-kasus-leptospirosis-terjadi-di-klaten-pada-2025.jpg)