Tanggapan Pemerintah Bantul Soal Asap Pembakaran Sampah TPA Piyungan
Warga Bawuran, Kapanewon Pleret, Bantul, mengeluhkan asap pembakaran sampah di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Iwan Al Khasni
Ringkasan Berita:
- Warga Bawuran, Pleret, Bantul mengeluhkan asap pembakaran sampah di TPA Piyungan yang beroperasi 24 jam. DLHK DIY dan Bantul menegaskan akan melakukan koordinasi dan pengecekan lapangan untuk memastikan penyebab asap serta mencari solusi penanganan.
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL – Warga Kalurahan Bawuran, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, mengeluhkan asap pembakaran sampah di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
Keluhan ini mencuat setelah unggahan di media sosial memperlihatkan kondisi asap yang semakin parah saat musim hujan.
Sejumlah warga bahkan memilih kembali ke rumah orangtua karena khawatir terhadap balita mereka.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY Kusno Wibowo menyatakan, keluhan warga Kalurahan Bawuran, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul, terkait asap pembakaran sampah di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan telah ditindaklanjuti oleh jajaran lingkungan hidup Kabupaten Bantul dan akan kembali dikoordinasikan untuk memastikan kondisi lapangan terkini.
“Pernah ditindaklanjuti teman-teman lingkungan hidup Bantul. Coba besok kita komunikasikan lagi. Sebaiknya ditanyakan ke Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bantul untuk konkretnya,” kata Kusno saat dikonfirmasi.
Menanggapi dugaan sumber asap, Kusno menilai penentuan jarak dan asal pembakaran tidak dapat disimpulkan secara sederhana. Menurutnya, aktivitas pembakaran sampah di kawasan tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah daerah.
“Kalau bilang jarak susah mau bilang berapa, soalnya yang bakar sampah juga warga sekitar,” ujarnya.
Aktivitas Pembakaran di TPA
Lurah Bawuran, Supardiono, mengatakan pihaknya menerima laporan warga mengenai aktivitas pembakaran sampah yang berlangsung selama 24 jam dan menyebabkan asap menyebar hingga ke permukiman.
“Di dalam TPA Piyungan itu kan ada pembakaran sampah, ada beberapa cerobong. Itu miliknya Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DIY. Itu beroperasi 24 jam. Itu informasi dari masyarakat,” kata Supardiono.
Ia menyebutkan, meskipun TPA Piyungan telah ditutup untuk aktivitas penimbunan sampah, saat ini terdapat pengelolaan sampah dengan metode pembakaran menggunakan beberapa cerobong.
“Iya memang di lokasi TPA Piyungan sudah tutup untuk menimbun sampah. Tetapi sekarang diganti untuk bakar. Banyak alat di sana, sekitar tiga atau empat cerobong pembakaran sampah di sana,” ujarnya.
Supardiono mengakui, di sekitar TPA Piyungan juga terdapat warga yang melakukan pembakaran sampah secara mandiri. Namun, ia menilai aktivitas pembakaran di kawasan TPA menjadi faktor utama yang memperparah sebaran asap, terutama saat kondisi cuaca hujan dan dingin.
“Yang TPA Piyungan itu, yang milik DLH DIY itu beroperasi 24 jam. Sementara kemarin pas hujan masih tetap beroperasi, sehingga asap itu terperangkap sama hujan. Asapnya enggak bisa naik. Karena cuaca dingin itu kan akhirnya menyebar di sekitar permukiman warga,” katanya.
| Belasan Kasus Kebakaran Terjadi di Yogyakarta, Mayoritas Karena Korsleting Listrik dan Bakar Sampah |
|
|---|
| Bank Sampah Pa-Q-One di Kota Yogyakarta Sulap Botol Sampah Plastik Jadi Wayang Estetik |
|
|---|
| Tindaklanjuti Aduan Bau Sampah di Dekat SLB N 2 Bantul, ORI DIY: Kami Segera Cek Lapangan |
|
|---|
| Terpapar Bau Sampah, Siswa SLBN 2 Bantul Belajar di Tengah Polusi, Kini Mengadu ke ORI |
|
|---|
| Datin Wisnu Pranyoto: PSEL Solusi Pemungkas Atasi Krisis Sampah di Bantul |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pemkot-Yogya-Siapkan-Teknologi-RDF-untuk-Pengolahan-Sampah-di-TPA-Piyungan.jpg)