Aisyiyah Yogyakarta
Aisyiyah Tegaskan Seni Budaya sebagai Dakwah Kultural
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menegaskan, bahwa Islam merupakan agama yang memuliakan keindahan.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Iwan Al Khasni
Ringkasan Berita:
- Fesiba 2025 di Yogyakarta menghadirkan ratusan perempuan dari berbagai daerah. Seni sebagai instrumen dakwah Aisyiyah, partisipasi 28 provinsi dengan 350 karya, serta penegasan bahwa seni budaya adalah strategi dakwah yang cair dan mudah diterima
Tribunjogja.com Yogyakarta -- Ratusan perempuan dari berbagai usia dan daerah, turut serta menyemarakkan gelaran puncak Festival Seni Budaya Aisyiyah (Fesiba) 2025, Sabtu (10/1/26).
Agenda yang dipusatkan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Seni dan Budaya Yogyakarta itu menjadi bukti nyata, bahwa bagi organisasi perempuan Muhammadiyah ini, seni bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen dakwah.
Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menegaskan, bahwa Islam merupakan agama yang memuliakan keindahan.
Menurutnya, puncak perayaan Fesiba 2025 sekaligus memperkuat identitas perempuan Aisyiyah yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan dalam merawat peradaban.
"Seni ketika berakar pada nilai tauhid, akhlak, dan kemanusiaan, akan menjadi media dakwah yang lembut, mendalam, dan menyentuh jiwa. Fesiba bukan sekadar ajang pertunjukan, melainkan ruang ekspresi dakwah kultural Aisyiyah," tandas Salmah.
Kemeriahan Fesiba 2025 sejatinya telah dimulai sejak kisaran bulan Agustus dan September tahun lalu, melalui serangkaian proses produksi karya dari para peserta.
• Aisyiyah Kembangkan Program Ketahanan Pangan Berbasis Qaryah Thayibah
Menepis Anggapan Anti Seni
Ketua Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) PP Aisyiyah, Widiyastuti, mengungkapkan, antusiasme kader di tingkat akar rumput sangat luar biasa.
Ada delapan kategori yang dilombakan, mencakup berbagai aspek kreativitas, seperti cipta lagu religi, dokumentasi kuliner dan permainan tradisional daerah, hingga karya tulis ilmiah.
"Ada lebih dari 350 karya yang masuk. Ini diikuti oleh 28 wilayah (provinsi) dari seluruh Indonesia. Hari ini, nominator dari 17 wilayah hadir langsung di Yogyakarta," ucapnya.
Widiyastuti pun menegaskan, semarak Fesebi 2025 sontak menepis anggapan bahwa organisasi keagamaan cenderung kaku, bahkan anti terhadap ragam seni dan budaya.
Ia menekankan, Aisyiyah sudah memiliki garis panduan yang jelas terkait hal tersebut, melalui keputusan Majelis Tarjih Muhammadiyah, yang dikeluarkan 1995 silam.
"Kami sama sekali tidak anti seni. Justru seni budaya menjadi strategi dakwah yang cair dan mudah diterima. Buktinya, penampil hari ini beragam, mulai dari anak-anak, remaja, hingga lansia," cetusnya.
Melalui Fesiba 2025, Aisyiyah ingin menunjukkan, bahwa pesan-pesan keislaman dan kemanusiaan bisa disampaikan dengan lebih "adem" melalui nada, gerak, serta tulisan.
Lebih jauh, pagelaran tersebut menjadi saksi bagaimana perempuan berkemajuan merawat budaya sembari terus menyebarkan risalah rahmatan lil alamin.
"Jadi, sebenarnya, seni budaya bisa dilakukan siapa saja. Itu yang menjadikan seni budaya sangat cair, sangat enak, dan mudah diterima oleh siapapun," pungkasnya. (aka)
| Apel Kesiapsiagaan Bencana, Wali Kota Magelang Gerakkan Program 'Resik Kali' |
|
|---|
| Sleman Uji Coba WFH per 1 Mei: Kuota 25 Persen tapi Opsional, ASN Boleh Tak Ambil |
|
|---|
| Sapa Driver Grab Perempuan di Jogja, ALVA Soroti Peran Perempuan di Ekosistem Kendaraan Listrik |
|
|---|
| Kasus WNA Ngamen Jadi yang Pertama di DIY, Kanwil Ditjen Imigrasi DIY Perkuat Pencegahan |
|
|---|
| Tak Setuju Pilur di Sleman Kembali Coblosan, Dewan Dorong Inovasi E-Voting via Gadget |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Aisyiyah-Yogyakarta-Tegaskan-Seni-Budaya-sebagai-Dakwah-Kultural.jpg)