Skak Studios Kolaborasi dengan Hyprshow dan Hompimpa Animworks
Kolaborasi ini bukan sekadar pendanaan, melainkan untuk membangun model investasi Intellectual Property (IP) lokal yang berkelanjutan.
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Ringkasan Berita:
- Skak Studios mengembangkan sayapnya dengan berkolaborasi bersama Hyprshow dan Hompimpa Animworks.
- Bayu Skak menyebut kolaborasi ini bukan sekadar pendanaan, melainkan untuk membangun model investasi Intellectual Property (IP) lokal yang berkelanjutan.
- Kolaborasi itu diproyeksikan akan menghasilkan film komedi horor berjudul Expedisi.
Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Arie
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Skak Studios mengembangkan sayapnya dengan berkolaborasi bersama Hyprshow dan Hompimpa Animworks.
Di ajang JAFF Market 2025 di Jogja Expo Center (JEC), Skak Studios mengenalkan kolaborasinya dengan Hypershow, ekosistem digital yang fokus pada pengembangan konten kreatif dan distribusi berbasis teknologi.
Kolaborasi itu diproyeksikan akan menghasilkan film komedi horor berjudul Expedisi.
Bayu Skak, CEO Skak Studios menyebut kolaborasi ini bukan sekadar pendanaan, melainkan untuk membangun model investasi Intellectual Property (IP) lokal yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan, Expedisi adalah bentuk eksplorasi genre baru yang tetap membawa ciri khas naratif mereka, humor yang membumi, karakter yang dekat dengan keseharian, serta nuansa lokal yang kuat.
“Dengan dukungan Hyprshow, film ini diharapkan mampu menjangkau penonton lintas platform, mulai dari layar bioskop hingga layanan streaming digital,” ujar dia beberapa waktu lalu.
Bagi Hyprshow, Expedisi adalah peluang untuk memperkuat portofolio konten yang relevan secara budaya sekaligus komersial.
Mereka percaya bahwa IP lokal memiliki daya tarik besar, terutama jika dikemas dengan kualitas produksi kompetitif dan strategi distribusi adaptif.
Investasi yang mereka berikan mencakup dukungan finansial, promosi digital, hingga pengembangan ekosistem penonton yang lebih luas.
Baca juga: Industri Film Indonesia Sulit Cari Pendanaan, Mira Lesmana Tekankan Manajemen Finansial Matang
Expedisi juga menjadi simbol pergeseran industri film Indonesia menuju pendekatan yang lebih kolaboratif dan berbasis IP.
Dengan genre komedi horor yang masih jarang dieksplorasi secara serius, proyek ini membuka ruang baru bagi kreator lokal untuk bereksperimen sekaligus memperluas jangkauan cerita mereka.
Peter Shearer dan David Salim, founder Hyprshow, mengaku optimis bahwa ketertarikan Hyper terhadap dunia film berkembang menjadi visi bersama untuk mengelola pendanaan IP secara lebih terstruktur.
Hypr yang awalnya bergerak di pendanaan event dan F&B kini memperluas sayap melalui HyprShow, entitas baru yang fokus mendukung perkembangan IP. Skak Studios pun menjadi partner pertama dalam perjalanan ini.
Kerja sama jangka panjang tersebut dimulai melalui proyek film Expedisi, yang memasuki masa produksi pada April 2026.
Film ini mengisahkan sekelompok mahasiswa yang mencari uang tambahan dengan mengambil pekerjaan foto pre-wedding di tengah hutan.
Namun tanpa sengaja, mereka masuk ke dimensi lain tempat monster kuno terbangun dari tidurnya selama ribuan tahun.
Hypr, platform pendanaan berbasis blockchain (Web3) yang menghadirkan peluang investasi bisnis melalui mekanisme fractional ownership yang dirancang bagi investor global, baik individu maupun institusi, untuk memiliki sebagian kepemilikan dari brand dengan performa terbukti dan potensi ekspansi.
Film Animasi
Tak berhenti di eksplorasi film horor komedi, Skak Studios juga menghadirkan film animasi berjudul Foufo.
Dengan latar cerita yang unik, Foufo mencoba meramu fiksi ilmiah dengan realitas sosial dan budaya lokal, menghadirkan sebuah karya yang segar sekaligus sarat makna.
Cerita Foufo berawal dari sebuah pesawat luar angkasa futuristik yang mendarat di pinggiran Pulau Madura.
Seorang pemuda lokal yang tengah merintis usaha melihat peluang untuk menjual besi dari pesawat tersebut demi menambah modal bisnisnya.
Dari titik ini, kisah berkembang menjadi pertemuan antara dunia fiksi ilmiah dengan kehidupan nyata masyarakat Madura.
Film ini disutradarai oleh Bayu Skak bersama Dono Pradana, diproduksi oleh Skak Studios dan SinemArt.
Gaya penceritaan khas Bayu Skak tetap terasa: humor yang membumi, kehangatan keluarga, serta kritik sosial yang dikemas ringan namun bermakna.
Keunikan lain yang membuat film ini menonjol adalah penggunaan bahasa Madura sebagai bahasa utama, memperkuat nuansa lokal dan autentisitas cerita.
Baca juga: Reza Rahadian, Dian Sastro, Eva Celia, Christine Hakim Bintangi Laut Bercerita Versi Layar Lebar
Lebih dari sekadar kisah tentang alien, Foufo adalah refleksi tentang bagaimana masyarakat lokal merespons hal-hal asing dalam kehidupan mereka.
Dengan latar Madura yang jarang diangkat dalam film animasi, karya ini menjadi bentuk representasi budaya yang penting sekaligus menyegarkan bagi industri film Indonesia.
Film ini juga menjadi hasil kolaborasi strategis antara Skak Studios dan Hompimpa Animworks, studio animasi 3D asal Indonesia.
Kolaborasi ini bertujuan meningkatkan standar animasi dan CGI sekaligus memperluas jangkauan IP animasi lokal ke pasar nasional maupun internasional.
Hompimpa Animworks sendiri dikenal sebagai studio spesialis animasi 3D dengan pengalaman lebih dari 2000 menit produksi animasi serta sejumlah penghargaan nasional dan internasional.
Dalam proyek Foufo, Hompimpa bertanggung jawab atas desain karakter, storyboard, VFX, hingga compositing, menjadikan film ini salah satu produksi animasi lokal dengan kualitas teknis tinggi.
“Kolaborasi ini menjadi contoh sinergi antara kreator konten dan studio teknis untuk menciptakan karya animasi yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat identitas budaya lokal,” ujar Bayu.
Keduanya berbagi peran sekaligus visi menciptakan karya yang menghibur, bermutu, dan berakar pada identitas Indonesia.
“Kolaborasi kami dengan Skak Studios dalam proyek Foufo adalah langkah penting dalam mendorong kualitas dan keberagaman animasi Indonesia. Kami percaya bahwa kekuatan cerita lokal, jika dipadukan dengan teknologi dan pendekatan visual yang tepat, dapat menghasilkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membanggakan,” ungkap Risma Suherja, CEO Hompimpa.
Foufo menjadi bukti bahwa animasi lokal mampu bersaing, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional.
Dengan akar budaya yang kuat, keberanian bereksperimen, serta dukungan teknologi animasi mutakhir, film ini menandai langkah strategis baru bagi perkembangan Intellectual Property (IP) Indonesia. (*)
--
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Kolaborasi-Skak-Studios.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.