Festival Bregada Rakyat Kembali Digelar Bulan Ini, Usung Tema Perjuangan Pangeran Diponegoro

Kompetisi seni keprajuritan yang telah bertransformasi menjadi lomba koreografi ini mengusung tema besar 'Perjuangan Pangeran Diponegoro'

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUN JOGJA/AZKA RAMADHAN
FESTIVAL: Foto dok ilustrasi. Arak-arakan salah satu bregada yang tampil dalam ajang Festival Bregada Rakyat Yogyakarta, di Balai Kota Yogya, Minggu (27/10/24). 

TRIBUNJOGJA.COM - Festival Bregada Rakyat yang kini memasuki edisi ke-13 kembali digulirkan di Yogyakarta, pada Minggu (19/10/25) mendatang.

Kompetisi seni keprajuritan yang telah bertransformasi menjadi lomba koreografi ini mengusung tema besar 'Perjuangan Pangeran Diponegoro' sebagai bentuk refleksi momentum 200 Tahun Perang Jawa (1825-1830).

Alhasil, event yang selenggarakan atas kerja sama Sekber Keistimewaan dan Dinas Kebudayaan DIY itu memilih lokasi yang punya kedekatan historis dengan Pangeran Diponegoro.

Yakni, di Gua Selarong, Guwosari, Pajangan, Bantul, yang dikenal sebagai markas gerilya dan tempat persembunyian Pangeran Diponegoro saat memimpin perlawanan heroik melawan penjajah Belanda.

Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra, menjelaskan, bahwa festival ini menjadi cikal bakal penyelenggaraan festival serupa di tingkat Kabupaten/Kota. 

Seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan konsep signifikan, dari format awal berupa kirab, menjadi lomba koreografi seni keprajuritan.

"Tujuannya untuk mengeksplorasi potensi seni keprajuritan yang saat ini semakin berkembang pesat di kampung-kampung," tandasnya.

Adapun lomba koreografi akan menampilkan 20 kelompok peserta berbasis kewilayahan, di mana setiap kelompok akan terdiri dari 35 orang penampil, termasuk para pemusik yang mengiringi.

Penampilan peserta akan dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari perwakilan Kasultanan Ngayogyakarta, Kadipaten Pakualaman, serta kalangan seniman dan budayawan berpengalaman. 

"Dengan kriteria penilaian meliputi alur cerita, keativitas, keserasian, dan kekompakan penampilan, kostum dan properti pendukung, ekspresi atau penghayatan, iringan musik, dan kesesuaian durasi waktu," cetus Widihasto.

Nantinya, dewan juri akan memilih lima kelompok terbaik, yang berhak membawa pulang total uang pembinaan senilai Rp50 juta. 

Rincian Penyaji Terbaik I (Rp15 juta), Penyaji Terbaik II (Rp12,5 juta), Penyaji Terbaik III (Rp10 juta), Harapan I (Rp7,5 juta), dan Harapan II (Rp5 juta). (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved