DIY Masih Turun Hujan, Begini Penjelasan BMKG
Gelombang Rossby Ekuatorial sedang melintasi sejumlah wilayah Indonesia, seperti Jawa, Bali, NTB, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Mengapa di bulan April ini, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih saja diguyur hujan? Berikut penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Yogyakarta.
Menurut perkiraan, hujan memang masih akan mengguyur DIY. Kepala Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Feriomex Hutagalung, mengatakan awal dasarian April memang masih pancaroba atau peralihan ke musim kemarau.
Gelombang Rossby Ekuatorial
Selain itu, gelombang Rossby Ekuatorial sedang melintasi sejumlah wilayah Indonesia, seperti Jawa, Bali, NTB, Sulawesi, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang masuk di dalam Pulau Jawa pun ikut terkena dampak.
"Secara angin, adanya tekanan rendah Samudera Hindia barat daya Bengkulu menyebabkan wilayah Jawa termasuk DIY konvergensi (menyebabkan hujan)," katanya, Sabtu (11/4/2026).
Ia pun mengimbau seluruh stakeholder untuk waspada. Pasalnya potensi bencana hidrometeorologi masih mungkin terjadi.
"Secara umum tetap waspada karena musim peralihan atmosfernya labil," ujarnya.
Adapun wilayah yang perlu waspada, terutama di wilayah utara DIY, seperti Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, dan Gunungkidul utara.
Curah Hujan
Terpisah, Kepala Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menerangkan curah hujan pada April 2026 diprediksi sekitar 51-300 mm/bulan, masuk kriteria rendah hingga menengah, dengan sifat hujan bawah normal.
Sementara pada Mei 2026 diprediksi berkisar 21-100 mm/bulan masuk kriteria rendah dengan sifat hujan seluruhnya bawah normal.
Sedangkan Juni 2026 diprediksi berkisar 0-50 mm/bulan, masuk kriteria rendah dengan sifat hujan seluruhnya bawah normal.
Prediksi kemarau
"Awal musim kemarau 2026 diprediksi pada dasarian III April 2016 dan dasarian I Mei 2026. Puncak musim kemarau diprediksi pada bulan Agustus 2026. Jumlah curah hujan musim kemarau 2026 diprediksi antara 250-400 mm. Untuk akhir kemarau diprediksi dasarian II Oktober dan dasarian I November 2026," terangnya.
Pada akhir musim hujan, pemerintah termasuk masyarakat harus mewaspadai perubahan cuaca yang cepat, seperti hujan lebat disertai angin kencang dan petir.
Untuk itu, mitigasi menjadi upaya penting dalam mengurangi potensi dampak cuaca ekstrem selama masa pancaroba.
Langkah mitigasi bisa dilakukan dengan membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memastikan struktur bangunan dan baliho dalam kondisi kuat. (maw)
| Gelombang Rossby Ekuatorial Pengaruhi Intensitas Hujan di DIY, Ini Penjelasan BMKG |
|
|---|
| PSS Sleman Kalah dari Barito Putera, Perebutan Tiket Promosi ke Super League Kian Ketat |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca DIY Hari Ini Minggu 12 April 2026: Waspada Potensi Hujan Sedang-Lebat |
|
|---|
| Resah Suara Bising, Warga Sleman Sweeping Knalpot Brong di Ring Road |
|
|---|
| BMKG: DIY Masih Akan Diguyur Hujan di Sepanjang April, Ini Alasannya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ilustrasi-foto-hujan-deras-hujan-lebat-hujan-di-jalan.jpg)