Sekolah Lapang Iklim Dibuka di Gunungkidul, Ini Fungsinya

Dwikorita Karnawati, menegaskan Sekolah Lapang Iklim (SLI) menjadi langkah penting untuk memperkuat ketangguhan petani

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
SEKOLAH: Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, saat pembukaan Sekolah Lapang Iklim di Kabupaten Gunungkidul, pada Senin (22/9/2025) 

Laporan Reporter Tribun Jogja Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membuka Sekolah Lapang Iklim (SLI) Tematik Tahun 2025 di Balai Kalurahan Pilangrejo, Kapanewon Nglipar, Senin (22/9/2025).

Kegiatan bertema “Implementasi Program Unggulan GNPI melalui Sinergi Pertanian Berkelanjutan: Paham Iklim, Petani Tangguh” ini diikuti 60 peserta, terdiri dari petani hortikultura, penyuluh pertanian lapangan (PPL), serta pengendali organisme pengganggu tanaman (POPT).

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menegaskan Sekolah Lapang Iklim (SLI) menjadi langkah penting untuk memperkuat ketangguhan petani menghadapi perubahan iklim. 

"Melalui SLI, petani dibekali keterampilan membaca informasi cuaca sehingga mampu menyesuaikan pola tanam di tengah kondisi ekstrem yang makin sering terjadi" tuturnya disela acara tersebut.

Dia menambahkan nantinya melalui SLI juga akan diajarkan  pemanfaatan informasi cuaca lewat pengenalan alat ukur, hingga analisis iklim. Dengan demikian, petani dapat lebih adaptif menghadapi cuaca ekstrem. 

"Petani perlu terbiasa membaca informasi cuaca, bahkan cukup lewat gawai, untuk menyesuaikan pola tanam. Dengan cara ini, kerusakan tanaman dapat diminimalisir, hasil panen lebih optimal, dan ketahanan pangan semakin kuat,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul menegaskan bahwa pertanian adalah tulang punggung perekonomian daerah, namun rentan terhadap perubahan iklim. Oleh sebab itu, program SLI dinilai sangat penting untuk memperkuat kemampuan adaptasi petani.

“Saya memberikan apresiasi kepada BMKG Stasiun Klimatologi DIY yang terus mendampingi petani melalui metode learning by doing. Dengan begitu, para petani tidak hanya memahami teori, tetapi juga langsung mempraktikkan bagaimana menganalisis dan menerapkan informasi iklim dalam usaha tani,” ungkapnya (ndg)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved