Jelang Lebaran, Tiara Kebanjiran Order Hampers Kue Kering
Bertukar hampers atau parcel masih menjadi tradisi masyarakat di Indonesia. Salah satunya momen ketika menjelang lebaran.
Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Bertukar hampers atau parcel masih menjadi tradisi masyarakat di Indonesia. Salah satunya momen ketika menjelang lebaran.
Tingginya permintaan parcel jelang lebaran ini menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha kue di Kulon Progo.
Jelang lebaran, permintaan parcel pun mengalami peningkatan cukup signifikan.
Salah satunya dirasakan oleh Calista Cookies.
Pemilik Calista Cookies, Kalis Tiara (26) mengatakan permintaan hampers menjelang lebaran tahun ini di tokonya kurang lebih 50 sampai 100 paket.
Setiap paket berisi 3-5 toples kue kering dengan berbagai produk di antaranya nastar, kastengel dan kue kacang.
"Kami juga menyediakan berbagai varian kue kering berupa putri salju original, putri salju red velvet dan green tea. Bahkan produk itu menjadi best seller di toko kami.
Namun konsumen juga bisa memadu-padankan dengan menambah sirup maupun gula pasir sesuai dengan permintaan," katanya saat ditemui di tokonya yang berada di Jalan Wates - Kedundang, Kabupaten Kulon Progo, Jumat (30/4/2021).
Baca juga: Pilihan Parcel Lebaran 2021 Yang Cocok Untuk Kerabat dan Mitra Bisnis
Baca juga: Pasar Lebaran 2021 di Sleman City Hall Dibuka, Ajang Pamer Kualitas Produk UMKM Sleman
Berbagai produk kue kering tersebut dipatok dengan harga Rp 55.000 - Rp 75.000 per toples.
Sementara untuk harga tiap hampers di kisaran harga Rp 250.000 yang berisi tiga toples dan harga Rp 450.000 berisi lima toples.
"Produksi kue kering dimulai dari awal Maret, kalau hampers dimulai pertengahan April. Kami menerima orderan mulai bulan itu.
Namun kami mulai membuat kue sejak empat tahun yang lalu dan dua tahun terakhir mulai berkembang dalam segi pengemasan," ucapnya.
Apalagi permintaan hampers dan kue kering tersebut tak hanya melayani konsumen di wilayah DI Yogyakarta saja melainkan di luar DIY diantaranya Magelang, Jakarta, Surabaya dan Malang.
Tiara mengklaim pandemi Covid-19 menjadi ladang bisnis bagi dirinya.
Meski penjualan melalui toko mengalami penurunan hingga 50 persen ketika Covid-19 melanda pada 2020 lalu.
Namun penjualan secara online mengalami peningkatan.
Sebab, pandemi Covid-19 memaksa untuk mengurangi kegiatan bertemu secara langsung sehingga agar silaturahmi tetap terjaga mereka lebih banyak untuk bertukar hampers. (Tribunjogja/Sri Cahyani Putri)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/jelang-lebaran-tiara-kebanjiran-order-hampers-kue-kering.jpg)