Boleh Percaya Boleh Juga Tidak. Pria Dewasa di Kampung Ini Semuanya Jagal

Caranya, pakai tali dililitkan di leher, perut, dan selangkangan. Itu akan membuat sapi merebah sendiri.

KOMPAS.com/ Junaedi
Sapi kurban berbobot 1,1 ton milik peternak di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dibeli Presiden Jokowi seharga Rp 60 juta. 

TRIBUNJOGJA.COM - Seorang jagal juga harus bisa merobohkan sapi tanpa kebanting supaya hewan tidak kesakitan.

Caranya, pakai tali dililitkan di leher, perut, dan selangkangan. Itu akan membuat sapi merebah sendiri.

Boleh percaya, boleh tidak, hampir semua pria dewasa di kampung ini akan memegang parang dan dicari banyak orang saat Hari Raya Kurban atau Idul Adha.

Ya, inilah Desa Sukoreno, Kecamatan Sentolo, Kulonprogo yang kondang sebagai kampung jagal.

Menyembelih dan menguliti hewan kurban memang tak bisa sembarangan dan tak semua orang bisa melakukannya dengan benar.

Sukoreno kerap menjadi rujukan ketika masyarakat mencari tukang jagal musiman untuk pekerjaan itu.

Di wilayah Pedukuhan Banggan dan Blimbing, lebih dari seratus warganya memang memiliki keahlian khusus sebagai tukang jagal musiman.

Kepiawaian mereka dalam menyembelih dan menguliti hewan kurban hingga tuntas telah diakui tak hanya oleh masyarakat Kulonprogo melainkan juga Sleman, Bantul, dan Kota Yogya bahkan Purworejo.

Sejarah kampung jagal tak lepas dari adanya sebuah kompleks kandang besar penjualan sapi milik Olan Suparlan yang ada di Pedukuhan Blimbing.

Keluarga Olan selama puluhan tahun terakhir dikenal sebagai saudagar sapi yang usahanya dirintis oleh sang ayah, Alm Haji Supardi sejak masa 1980-an silam dan kini usaha tersebut diteruskannya.

Keluarga tersebut setiap tahunnya menjelang Idul Adha selalu mengumpulkan para penjagal itu untuk disebar ke berbagai wilayah sesuai area distribusi hewan kurban yang bisa dijualnya.

Setiap orang biasanya diupah Rp150.000-300.000 ditambah bonus daging kurban.

“Dari tahun 1994 saya mulai ikut njagal bersama keluarga Pak Olan. Dari dulu kan memang jadi pedagang sapi besar sehingga menyerap tenaga kerja dari warga sekitar untuk jadi tukang jagal,” terang Suwartono (52), satu di antara tukang jagal tertua Sukoreno, ditemui di rumahnya di Banggan, Minggu (27/8/2017).

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved