Yogyakarta Bagai Ceruk Raksasa dari Ketinggian 1000 Mdpl
Matahari baru memancarkan sinarnya melewati celah - celah pepohonan yang masih bermandikan embun
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Rina Eviana Dewi
KESIBUKAN tampak jelas di posko tersebut. Puluhan anggota SAR tampak sudah bersiap - siap memetakan perkiraan keberadaan para survivor. Beberapa diantaranya sudah berjajar menerima instruksi dari kordinator lapangan sebelum melaksanakan proses pencarian. "Pencarian pagi ini kami pusatkan ke wilayah Cuwo dan Miji, melewati Plawangan, Candi serta puncak turgo," jelas Karjiyo, wakil kordinator evakuasi.
Adapun hingga pukul setengah delapan pagi, kami belum memeroleh perkembangan menggembirakan. Samar samar di radio panggil hanya terdengar para anggota tim SAR yang berkordinasi untuk melaksankan proses penyisiran melalui jalur Kinahrejo dan Plawangan. Cukup lama menunggu, hingga berselang 30 menit kemudian kami memeroleh kabar adanya tanda - tanda para survivor yang dilaporkan berada di hulu Kali Kuning. Sontak, kami dan para angotta tim SAR menuju lokasi sebagaimana yang dilaporkan melalui radio panggil.
Ada sekitar enam sepeda motor yang berjalan beriringan dari Kaliurang menuju Kinahrejo. Masing - masing dikendarai anggota tim SAR dan para awak media. Selang 15 menit kemudian, kami berhasil mencapai exit way pertama di pintu masuk menuju kediaman almarhum Mbah Maridjan. Setelah melaksanakan persiapan seadanya, tim yang berjumlah 16 orang ini kemudian memulai perjalanan penyisiran.
Baru beberapa langkah kami memulai perjalanan, semak belukar sudah menyambut. Jalan setapak selebar sekitar satu meter, menjadi panduan utama menuju titik lokasi keberadaan para survivor. Rute ini memang cukup berat, terutama bagi mereka yang tak terbiasa melahap lintasan terjal dan curam. Beberapa kali diantara kami harus beristirahat, untuk melepas lelah. Satu persatu mulai melepas jaket lantaran tak kuat menahan panas tubuh yang meningkat drastis diikuti cucuran keringat yang membasahi badan.
Hampir dua jam kami melangkahkan kaki menaiki bukit dan menuruni tebing curam. Sesekali kami juga harus menyibak semak belukar setinggi lebih dari satu meter untuk membuka jalan. Tak hanya itu saja, di sepanjang rute, beberapa kali ditemui batang - batang pohon yang tumbang menghalangi jalan. Beberapa diantaranya bisa dilompati, sementara yang lainnya terlalu tinggi sehingga harus menerobos dibawah batang pohon yang melintang. Harus waspada ketika menginjak batang pohon tersebut, lantaran kulit pohon mudah terkelupas jika diinjak.
"Rute Kinahrejo memang sudah tidak layak dan sudah ditutup, karena sudah benar - benar terputus sejak erupsi merapi 2010 silam. Banyak rintangan yang ditemui, semak belukar, tebing curam dan pepohonan yang tumbang menjadi pemandangan yang umum ditemui," jelas Ari Sukma, seorang relawan yang sudah lama berkecimpung dalam misi penyelamatan, navigasi serta orientasi medan hutan dan pegunungan.
Namun, medan yang berat itu seolah tak ada artinya jika sejenak menengadahkan wajah ke arah utara, lantaran Gunung Merapi saat itu benar - benar bisa disaksikan secara keseluruhan. Hanya ada kabut tipis mengitari puncak gunung. Selebihnya hamparan biru dari langit nan luas yang menjadi ornamen yang mengukuhkan betapa maha ciptaan-Nya. Belum puas menyaksikan arah utara, disaksikan dari ketinggian sekitar 1000 mdpl ke arah Selatan, tampak wilayah Yogyakarta seperti sebuah ceruk raksasa. Nun jauh disana, tampak garis halus rangkaian pegunungan selatan menjadi pembatas ceruk di bagian yang lain. Pemandangan indah ini, setidaknya menjadi pengobat rasa lelah yang kami rasakan selama dalam perjalanan.
Adapun, setelah berjalan sekitar dua jam, akhirnya kami sampai di hulu Kali Kuning. Kami turun menuruni tebing di sebelah kiri, kemudian melintasi alur sungai ini serta mendaki dinding sungai di seberangnya. Perjalanan kembali dilanjutkan hingga sekitar 15 menit kemudian, tim kami akhirnya bertemu dengan lima orang survivor yang sudah dievakuasi oleh sembilan orang dari Sekber Perhimpunan Pecinta Alam (PPA) DIY.
"Kami temukan di Jurang Kemloso pada pukul 08.50 WIB," jelas Yoga, seorang anggota Sekber PPA DIY.
Ketika itu, kelima warga yang tersesat tampak dalam kondisi stabil. Terbukti mereka mampu menuruni rute evakuasi tanpa bantuan orang lain. Namun ketika ditemukan, dua orang diantaranya mengalami kelelahan parah akibat kekurangan makan.
"Kami tidak kapok menjelajah gunung, tapi kami memeroleh pelajaran hidup berharga dari kejadian ini," ucap Aris Yulianto, seorang survivor yang menceritakan pengalamannya selama dalam perjalan menuju exit way. (Mona Kriesdinar )