Success Story Direktur UFO Elektronika

Sempat Jadi Imigran Gelap, Sekarang Jadi Direktur Toko Elektronik (I)

Siapa sangka Direktur UFO Elektronika Yogyakarta, Proko Sutomo pernah jadi imigran gelap. Sekarang dia menjadi Direktur Toko Elektronik

Penulis: Victor Mahrizal | Editor: Rina Eviana Dewi
Perjalanan hidup seseorang memang rahasia, namun saat orang tersebut ingin merubah nasibnya selalu ada jalan menuju kesuksesan. Demikianlah yang diungkapkan oleh Direktur UFO Elektronika, Proko Sutomo mengenai lika-liku perjalanan hidupnya.

LULUS dari Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, pria kelahiran Sidoarjo, 23 Desember 1972 ini sempat bergonta ganti pekerjaan, hingga ia menjadi seorang Sales Manager di sebuah perusahaan consumer goods.

Meski dengan gajinya saat itu, sudah cukup untuk menyambung hidup, namun ia merasa selama enam tahun bekerja tidak banyak perubahan signifikan yang terjadi dalam hidupnya hingga di usia 29 tahun.

“Saya merasa tidak mendapatkan apa-apa. Hingga ada dorongan kuat untuk mencari pengalaman baru yang jauh, ke Amerika,” ucapnya. Namun ada daya krisis moneter yang terjadi tahun 1999 membuat tiket pesawat tak terbeli.

Keinginan itu baru bisa terwujud dua tahun kemudian, saat ada seorang rekan yang memberitahu ada keluarganya yang akan menghadiri wisuda di Amerika. Dengan mengaku sebagai keluarga, ia tidak perlu mengurus visa yang mahal.

“Waktu itu kondisinya memang sulit, saya tidak tau lagi jika tidak mengambil resiko itu kapan lagi kesempatan itu akan datang,” kata Proko, meski diakuinya tindakan seperti itu tidak sepatutnya ditiru.

Datang sebagai imigran ilegal, memang tidak bisa luwes memilih pekerjaan, bahkan sebelum ia mendapat pekerjaan sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran China di Atlanta, Georgia, ia sempat menganggur selama dua bulan.

“Apa saja saya kerjakan cuci piring, membersihkan toilet, mengantar makanan. Saya kerja kadang sampai jam 2 pagi dan digaji dibawah upah minimum, tapi sebagai imigran gelap saya bisa apa?,” tuturnya.

Tak berapa lama, ia hijrah ke New Orleans dan mendapatkan pekerjaan sebagai waiters di restoran Jepang. Dari sini ia mulai bisa menabung sedikit demi sedikit dari uang tips. “Hidup saya mulai stabil, sedikit demi sedikit saya mulai bisa menabung,” ujarnya.

Enam tahun sudah ia merantau di Amerika, Proko memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Menurutnya selama tinggal di Negari Paman Sam itulah, ia menjadi selalu termotivasi untuk mampu melakukan perubahan.

Dengan tabungan yang cukup dan pengalamannya bekerja di Amerika, ia mulai berani bernegosiasi dengan sejumlah relasi, sampai ia mendapatkan kepercayaan untuk melakukan ekspansi bisnis UFO Elektronika ke Yogyakarta.

Tahun 2009, untuk pertama kalinya UFO Elektronic & Furniture hadir di kota Gudeg, meski sudah ada sejumlah toko elektronik besar lainnya, Proko berusaha membesarkan toko elektronik tersebut dengan mengambil hati masyarakat.

“Di Amerika image adalah nomor satu, mereka berani mengeluarkan banyak uang untuk promosi, itulah yang saya banyak melakukan branding. Melalui spanduk, media maupun menggelar sejumlah diskon yang kreatif,” ujarnya.

Kaum perempuan adalah yang paling utama karena mereka pemegang kendali uang belanja, selain itu mereka juga adalah yang menentukan perabotan rumah.  Dari yang awalnya omzet Rp 2 miliar kini sudah Rp 10 miliar atau empat kali lipatnya.

“Pada awalnya sangat berat. Kenapa setiap ada diskon tanggapan masyarakat sepi, tapi saya yakin siapa yang menabur ia bakal menui. Saya pernah mengalami hal yang lebih buruk, jadi saya selalu yakin kesulitan saat ini bisa saya lalui,” tutupnya. (tribunjogja.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved