Becak Kayuh Listrik di Malioboro Jadi Simbol Transformasi Transportasi Tradisional Jogja
Becak listrik yang akan digunakan di kawasan Malioboro ini menggunakan sistem pengisian baterai dengan indikator empat bar.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kampanye penggunaan becak kayuh bertenaga listrik di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, tak hanya menjadi langkah lingkungan, tetapi juga membawa perubahan dalam pola pengelolaan transportasi tradisional.
Tidak lagi dikelola perorangan, moda transportasi baru ini beroperasi di bawah sistem koperasi yang lebih terorganisir dan kolektif.
Ketua Koperasi Jasa Becak Kayu Jogja (KGBJ), Paimin Ahmad Sarjono, menjelaskan bahwa seluruh bantuan becak listrik yang diterima bukan ditujukan untuk individu, tetapi diberikan langsung kepada koperasi.
Menurut Paimin, hingga saat ini koperasi yang ia pimpin telah menerima dua jenis becak listrik dengan total 35 unit, terdiri atas 20 unit berwarna hijau produksi pabrik Selis dan 15 unit rakitan UGM.
“Perbedaan utamanya ada pada jalur mesin dan kapasitas tenaga. Yang buatan UGM ini mesinnya lebih besar, jadi lebih kuat. Tapi dua-duanya nyaman digunakan,” tuturnya.
Kedua tipe tersebut diterima dalam dua tahap: pengadaan pertama pada 2023 dan pengadaan terbaru pada 2024.
Semua unit saat ini sudah aktif beroperasi setiap hari, terutama untuk melayani wisatawan yang berkunjung ke kawasan heritage seperti Taman Sari, Kraton, dan Rotowijayan.
Becak listrik ini menggunakan sistem pengisian baterai dengan indikator empat bar.
Baca juga: Bentor di Malioboro Mulai Dibatasi, Becak Kayuh Bertenaga Listrik Jadi Alternatif Ramah Lingkungan
Jika daya baterai habis total, proses pengisian ulang bisa memakan waktu hingga 6–8 jam, atau semalaman.
Namun, untuk penggunaan normal, sebagian besar pengemudi mengisi daya saat indikator menunjukkan sisa dua bar.
Dari sisi ekonomi, pengemudi menyetor Rp10.000 per hari kepada koperasi sebagai biaya operasional.
Pendapatan yang diperoleh pun bervariasi, tergantung hari dan musim.
“Kalau hari biasa sekitar Rp100.000. Tapi kalau musim libur atau akhir pekan bisa sampai Rp200.000–Rp300.000. Tergantung ramai tidaknya wisatawan,” kata Paimin.
Meskipun tidak memiliki STNK karena tergolong kendaraan tidak bermotor, becak listrik yang digunakan anggota koperasi telah dilengkapi surat izin operasional resmi yang diterbitkan pemerintah, yakni surat izin operasional kendaraan tidak bermotor (SIO KTB).
Sebelumnya diberitakan, Pemda DIY bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mulai menggulirkan penggunaan becak kayuh bertenaga listrik di kawasan Malioboro, Jumat (18/7/2025).
Kampanye ini menjadi langkah awal untuk menjadikan Malioboro sebagai kawasan rendah emisi sekaligus memperkuat jati diri kota sebagai pusat budaya yang berkelanjutan. (*)
| Duka Jadi Daya, Kisah Perjuangan Mahasiswi UNY Torehkan IPK Nyaris Sempurna |
|
|---|
| Di Balik Vonis Bebas Aktivis: Catatan Kekerasan, Intimidasi Aparat, dan Anomali di Ruang Sidang |
|
|---|
| Tekan Prevalensi Stunting DIY, Integrasi Program MBG dan Lumbung Mataraman Digodog |
|
|---|
| Forum Cik Di Tiro: Kriminalisasi Aktivis Kritis Cederai HAM dan Kebebasan Berekspresi |
|
|---|
| Kuliner Sehat Kekinian Jogja, Menu Plant Based di ARTOTEL Suites Bianti Cocok untuk Semua |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Hasto-Wardoyo-naik-becak-listrik.jpg)