Volkswagen di Indonesia: Dari Mobil Klasik ke Kendaraan Masa Depan
Indonesia punya populasi VW yang cukup besar dibanding negara-negara tetangga di Asia Tenggara . Dan perkembangannya sangat pesat.
Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM - Di tengah geliat dunia otomotif Indonesia, nama Volkswagen (VW) tetap menjadi magnet kuat di kalangan pecinta mobil klasik.
Di balik bodinya yang ikonik, VW ternyata terus bertumbuh, tidak hanya sebagai kendaraan koleksi, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi personal melalui modifikasi dan inovasi teknologi.
Hal ini ditegaskan oleh Andi Santoso, dari Volkswagen Club Yogyakarta sekaligus Head Manager Jogja Volkswagen Festival (JVWF) 2025.
“Indonesia punya populasi VW yang cukup besar dibanding negara-negara tetangga di Asia Tenggara . Dan perkembangannya sangat pesat. Banyaknya event seperti JVWF membuat mata dunia makin tertarik melihat kita,” ujarnya.
Menurutnya, geliat dunia VW di Indonesia bukan hanya sebatas jumlah pemilik atau komunitas yang terus bertambah, tapi juga diperhatikan secara serius oleh pelaku industri.
Mulai dari bengkel modifikasi, dealer spare part, hingga perusahaan otomotif Eropa mulai melirik Indonesia sebagai pasar yang menjanjikan.
Tren modifikasi VW pun turut menjadi daya tarik tersendiri. Dua aliran besar yang populer di kalangan pecinta VW adalah German Look dan California Look, dua gaya yang mencerminkan karakter berbeda dalam dunia VW klasik.
“Barometer modifikasi masih di Eropa dan Amerika. German Look identik dengan velg besar, bodi ceper, dan mesin besar, bahkan sering menggunakan mesin Porsche,” bebernya.
German Look biasa diterapkan pada VW keluaran tahun muda (1971–1975), sementara California Look (Cal‑Look) lebih merujuk pada gaya balap jalanan.
Gaya ini mulai populer di Amerika sejak 1965 dan umum diterapkan pada VW lawas sebelum tahun 1967. Cal‑Look membuat mobil memiliki cc lebih besar, karburator ganda, muffler sport.
“California Look itu street-racing, awalnya memang untuk drag race. Ciri khasnya ringan, sederhana, dan lebih agresif,” imbuhnya.
Dengan begitu, perbedaan utama ada di tujuan penggunaan, modifikasi trim/velg, dan karakter performa. Cal‑Look murni untuk show & drag, tampak “wild,” sementara German‑Look lebih matang, seimbang untuk performa harian/touring ala Porsche.
Salah satu tantangan para pemilik VW klasik biasanya adalah ketersediaan suku cadang. Namun Andi menjelaskan bahwa sejak JVWF pertama kali digelar pada 2013, Indonesia semakin dikenal sebagai negara dengan komunitas VW yang aktif dan besar. Dampaknya, jaringan dealer resmi dan penyedia spare part mulai hadir.
“Sekarang cari spare part jauh lebih mudah, bahkan untuk VW keluaran lama. Uniknya lagi, satu spare part bisa digunakan di beberapa model VW seperti Kodok dan Safari,” katanya.
Meski dikenal klasik dan bermesin lawas, para penggiat VW juga tak alergi pada inovasi. Menurut Andi, VW sebenarnya sudah membuat purwarupa VW Combi elektrik sejak 1975. Di Indonesia sendiri, konversi VW ke tenaga listrik mulai dilakukan komunitas sejak 2015.
| IPK Indonesia DIY Lakukan Pendampingan Psikologis Kasus Dugaan Kekerasan Anak di Daycare Yogyakarta |
|
|---|
| Mimpi yang Terwujud dari Ketekunan Menabung Bertemu dengan Subsidi Dana Manfaat |
|
|---|
| Di Balik Inovasi Embarkasi Hotel Pertama dan Satu-satunya, Ada Dana Manfaat Bekerja Tanpa Terlihat |
|
|---|
| Kolaborasi Lintas Sektor Penting Dalam Memperluas Konektivitas Digital Nasional |
|
|---|
| 15 Tahun Ikut Merawat Jogja Istimewa |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/vw-festival1.jpg)