Warga TKP Abu Bakar Ali Renovasi Eks Menara Kopi Tanpa Bantuan Pemerintah
Namun, relokasi ini bukan tanpa tantangan. Meski lahan sudah dialihkan, kondisinya jauh dari siap pakai.
Penulis: Santo Ari | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM – Sejak Tempat Khusus Parkir (TKP) Abu Bakar Ali (ABA) resmi ditutup sebagai bagian dari penataan kawasan Sumbu Filosofi, para pengelola dan pedagang di lokasi itu berpindah ke lahan eks Menara Kopi.
Namun, relokasi ini bukan tanpa tantangan. Meski lahan sudah dialihkan, kondisinya jauh dari siap pakai.
Hingga hari ini, renovasi masih dilakukan secara swadaya oleh warga ABA tanpa dukungan dari pemerintah.
“Sampai hari ini kami masih mempersiapkan lokasi eks Menara Kopi, karena tempat ini diberikan kepada kami tapi tidak bisa langsung dipakai untuk aktivitas parkir maupun pedagang,” ujar Doni Rulianto, pengelola TKP ABA, Senin (9/6/2025) .
Menurut Doni, berbagai perbaikan mendesak harus dilakukan agar eks Menara Kopi dapat difungsikan sebagai lokasi parkir.
Salah satu langkah awal adalah memperbaiki akses jalan masuk dan meratakan area parkir yang masih berupa tanah.
Batu koral ditabur agar permukaan lebih kokoh dan bisa dilalui kendaraan termasuk armada bus. Kelistrikan dan fasilitas dasar seperti kamar mandi pun menjadi pekerjaan rumah.
“Kamar mandi yang ada ternyata tidak boleh dipakai, jadi kami harus membangun fasilitas baru. Kami juga melakukan penguatan jalan, karena ini akan dilalui bus-bus besar,” kata Doni.
Ironisnya, seluruh proses renovasi dilakukan dengan dana mandiri. Tidak ada bantuan anggaran dari pemerintah, meski sebelumnya mereka sudah menyampaikan kondisi lapangan.
“Semua ini pakai biaya mandiri, dari urunan kami termasuk ada yang keluar dari dana pribadi. Jangan sampai ketika nanti sudah berjalan tapi ada kerusakan yang menimbulkan masalah ke depan,” jelasnya.
Pemerintah, menurut Doni, belum memberikan respons lebih lanjut atas laporan warga.
Akibatnya, warga merasa harus mengambil inisiatif sendiri demi keberlangsungan kegiatan ekonomi mereka, terutama para pedagang dan juru parkir yang menggantungkan hidup dari arus kunjungan wisata.
“Harapannya kami, karena ini untuk kelancaran akses parkir, supaya mempermudah akses keluar masuk armada. Ketika ada yang kami bongkar, kami juga sanggup untuk mengembalikan seperti semula,” tambahnya.
Dengan semangat gotong royong, warga berharap agar lahan baru ini benar-benar bisa mendukung operasional parkir dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
“Yang diberikan pada kami adalah area parkir, maka harapan kami armada bus bisa masuk. Supaya pedagang juga tetap bisa jualan dan pengunjung nyaman,” tutup Doni.(nto)
Stasiun Yogyakarta dan Lempuyangan Kini Dilengkapi Area Bermain |
![]() |
---|
Gerakan Mas Jos Dorong Warga Yogya Olah Sampah dari Rumah |
![]() |
---|
Pemkab Sleman Utang Rp45 Miliar untuk Bangun Gedung RSUD |
![]() |
---|
Mapolda DIY Dibersihkan Usai Kericuhan, Sri Sultan HB X Pastikan Situasi Kondusif |
![]() |
---|
Penerimaan Mahasiswa Baru STIPRAM Naik 5 Persen, Program S1 Kepariwisataan Jadi Favorit |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.