Konklaf Pemilihan Paus Baru

Kapan Kardinal Indonesia Terakhir Kali Ikut Konklaf Paus? Ini Profil 3 Kardinal yang Pernah Terlibat

Berikut adalah profil tiga kardinal Indonesia yang pernah atau akan mengikuti konklaf:

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Bunga Kartikasari | Editor: Bunga Kartikasari
Isitmewa
ILUSTRASI KONKLAF - Para kardinal dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Kapel Sistina, Vatikan, pada 12 Maret 2013, saat konklaf dimulai untuk memilih penerus Paus Benediktus XVI. 

TRIBUNJOGJA.COM – Kepergian Paus Fransiskus pada 21 April 2025 menandai dimulainya masa sede vacante di Vatikan. 

Proses pemilihan Paus baru dijadwalkan berlangsung pada 6 Mei 2025, dengan para kardinal pemilih dari seluruh dunia akan berkumpul dalam konklaf di Kapel Sistina, Roma.

Konklaf merupakan momen sakral dalam Gereja Katolik, di mana para kardinal berusia di bawah 80 tahun memiliki hak untuk memilih penerus Takhta Suci. 

Di antara mereka, satu nama dari Indonesia akan turut ambil bagian: Kardinal Ignatius Suharyo.

Meski bukan yang pertama, kehadiran Kardinal Suharyo menjadi catatan penting bagi sejarah Gereja Katolik Indonesia. 

Ia menjadi orang ketiga asal Indonesia yang pernah ikut menentukan arah kepemimpinan Gereja Katolik dunia.

Berikut adalah profil tiga kardinal Indonesia yang pernah atau akan mengikuti konklaf:

1. Kardinal Justinus Darmojuwono

Kardinal Justinus Darmojuwono
Kardinal Justinus Darmojuwono (wikipdia)

Kardinal pertama dari Indonesia ini menjadi tonggak sejarah Gereja Katolik tanah air. 

Diangkat menjadi kardinal oleh Paus Paulus VI pada 1967, Justinus Darmojuwono saat itu menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.

Ia tercatat mengikuti dua konklaf dalam tahun yang sama, yakni pada 1978. 

Konklaf pertama memilih Paus Yohanes Paulus I, dan konklaf kedua pada tahun yang sama menetapkan Karol Wojtyła sebagai Paus Yohanes Paulus II.

Setelah pensiun dari tugas kegembalaannya, Darmojuwono memilih hidup sederhana di Semarang. 

Ia wafat pada 1994, meninggalkan jejak sebagai pionir keterlibatan Indonesia dalam konklaf.

Baca juga: PROFIL Kardinal Angelo Becciu Kandidat Kuat Paus yang Mundur Jelang Konklaf 7 Mei 2025 Ini Alasannya

2. Kardinal Julius Darmaatmadja

Kardinal Julius Darmaatmadja
Kardinal Julius Darmaatmadja (Istimewa)

Dua dekade setelah Darmojuwono, Kardinal Julius Darmaatmadja melanjutkan jejak tersebut. Diangkat menjadi kardinal oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1994, Darmaatmadja sebelumnya pernah menjabat sebagai Uskup Agung Semarang dan Uskup Agung Jakarta.

Ia ikut serta dalam konklaf tahun 2005 yang menetapkan Josef Ratzinger sebagai Paus Benediktus XVI. Namun pada 2013, meski masih memiliki hak suara, ia memutuskan tidak hadir dalam konklaf yang memilih Paus Fransiskus. Alasan utamanya adalah kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan.

Keputusan untuk tidak berangkat ke Roma saat itu menjadi bentuk kesadaran dan kerendahan hati bahwa tugas pemilihan paus membutuhkan kesiapan fisik dan mental sepenuhnya.

Baca juga: Cerobong Asap Dipasang di Kapel Sistina, Tanda Konklaf Segera Dimulai

3. Kardinal Ignatius Suharyo

PROFIL Kardinal Ignatius Suharyo
PROFIL Kardinal Ignatius Suharyo (Istimewa)

Kini, tongkat estafet beralih ke Kardinal Ignatius Suharyo. Ia menjadi wakil Indonesia dalam konklaf yang dijadwalkan berlangsung 6 Mei 2025 mendatang. 

Saat ini, Suharyo menjabat sebagai Uskup Agung Jakarta dan satu-satunya kardinal asal Indonesia yang masih memiliki hak suara.

Lahir di Sedayu, Bantul, Yogyakarta, pada 1950, Suharyo dikenal luas di lingkungan Gereja Katolik Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), dan pada 2019 diangkat sebagai kardinal oleh Paus Fransiskus.

Dengan latar belakang pendidikan doktoral di bidang teologi biblis dari Roma, Suharyo telah mengabdi lebih dari dua dekade sebagai uskup.

Keterlibatannya dalam konklaf 2025 akan menjadi momen kedua kalinya dalam sejarah Indonesia memiliki suara dalam pemilihan Paus di abad ke-21.

Dengan keikutsertaan Kardinal Ignatius Suharyo dalam konklaf 2025, Indonesia kembali mencatatkan diri dalam sejarah panjang Gereja Katolik dunia. 

Meski berasal dari negara dengan populasi Katolik minoritas, suara dari Indonesia tetap mendapat tempat dalam peristiwa penting di jantung Vatikan.

Jejak tiga kardinal ini bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga simbol kehadiran Gereja Katolik Indonesia dalam dinamika global yang penuh doa dan harapan.

( Tribunjogja.com / Bunga Kartikasari )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved