REI DIY Prihatin Gen Z Tidak Bisa Beli Rumah di Jogja
Ia menyebut pemerintah memang telah menggelontorkan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Yoseph Hary W
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Generasi Z mengaku kesulitan membeli rumah di Jogja dan memilih untuk kos atau kontrak rumah.
Hal itu membuat Ketua Realestat Indonesia (REI) DIY, Ilham Muhammad Nur merasa prihatin.
Ia menyebut penyediaan perumahan memang menjadi tugas bersama, khususnya pemerintah.
Ia menyebut pemerintah memang telah menggelontorkan dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
"Tentu kami prihatin atas kondisi yang ada ini (Gen Z tak mampu beli rumah), masalah ini pekerjaan bersama, terutama menjadi tugas pemerintah sesuai amanat Undang-undang. Untuk mengatasi ini, di samping memang perilaku Gen Z yang tidak menjadikan aset sebagai prioritas, tetapi apabila ada kemudahan, ada keberpihakan dari semua yang terlibat dalam penyediaan perumahan, tentu mereka akan berpikir ulang," katanya, Senin (07/04/2025).
Ia menerangkan REI DIY pernah mengusulkan agar FLPP mengatur skema sewa. Selama ini skema FLPP hanya kepemilikan saja. Menurut dia, skema sewa dengan FLPP akan memudahkan masyarakat termasuk Gen Z.
"Kalau sewa kan harganya bisa jauh lebih murah. Mungkin bisa dibatasi 20 tahun atau 30 tahun, paling tidak mereka aman. Kalau sekarang ini kan mereka tidak aman akhirnya nomaden, berpindah-pindah, mencari suasana baru, mencari fasilitas, dan lain-lain. Padahal rumah itu awal mula kesejahteraan keluarga yang membuat generasi mendatang lebih baik," terangnya.
Ilham mengungkapkan suplai rumah FLPP di DIY pun sangat kecil. Hal itu karena harga tanah di DIY setiap tahun terus meningkat. Mayoritas anggota REI DIY pun memilih berinvestasi pada rumah non subsidi.
Harga rumah yang ditawarkan anggota REI DIY paling rendah berkisar antara Rp 250an hingga Rp 300 juta. Namun lokasinya terbilang jauh dari perkotaan.
"Ada di Pajangan (Bantul), beberapa daerah di Bantul juga banyak, di Sleman juga masih ada. Tetapi yang lokasinya jauh dari perkotaan. Waktu tempuh untuk ke perkotaan ya lebih dari 30 menit," ungkapnya.
Kendati demikian, masih ada anggotanya yang mengambil peluang untuk investasi di segmen rumah subsidi. Pihaknya pun terus mendorong anggotanya agar bisa menyuplai rumah subsidi kepada masyarakat.
"Kami akan menyediakan (rumah subsidi) walaupun jumlahnya kecil. InsyaAllah kami dorong anggota-anggota untuk bisa berinvestasi di situ (rumah subsidi). Ada sih rencana beberapa anggota (REI DIY) untuk berinvestasi, semoga lancar, bisa memenuhi, bisa tersedia tahun ini," imbuhnya. (maw)
| Jamu PSM Makassar, Sejumlah Pemain PSIM Yogyakarta Masih Absen, Rahmatsho Kembali ke Skuad |
|
|---|
| Jadwal KRL Jogja Solo Hari Jumat 10 April 2026 dari Stasiun Tugu Jogja |
|
|---|
| Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto Apresiasi Kenaikan PAD Jogja Rp1 Triliun, Dorong Rekonsolidasi Fiskal |
|
|---|
| Momen Sekjen PDIP dan Hasto Wardoyo Makan Siang Brongkos di Kantin Balai Kota Yogyakarta |
|
|---|
| Meriahnya Puncak HUT ke-271 DIY: Ratusan Tumpeng, Tradisi Kembul Bujono, hingga Donasi Koin ASN |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-rumah-subsidi.jpg)