Petani Zona Selatan Gunungkidul Mulai Panen Padi Gogo dan Palawija 

Untuk tanaman padi varietas Segreng sudah panen kurang lebih 20 hektare, dengan sampel ubinan 3,5 ton/per hektar gabah kering giling (HKG).

Tayang:
Dok.Istimewa
Petani Zona Selatan Gunungkidul mulai panen Padi Gogo dan Palawija, Selasa (21/1/2025) 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Wilayah bagian Selatan Kabupaten Gunungkidul mulai melakukan panen tumpangsari antara padi dan tanaman palawija.

Salah satu kelompok tani  yang melakukan panen padi dan palawija yakni Kelompok Tani Lestari Makmur, Dusun Kotekan, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus.

Koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kapanewon Tepus, Edi Januari, mengatakan panen tumpangsari yang dilakukan di wilayah binaannya itu  ditanam dengan pola tumpangsari, yaitu padi gogo tumpangsari dengan jagung atau jagung tumpangsari dengan kacang tanah.

Untuk tanaman padi varietas Segreng sudah panen kurang lebih 20 hektare, dengan sampel ubinan 3,5 ton/per hektar gabah kering giling (HKG).

Sedangkan,  jagung hibrida jenis Bisi dari ubinan didapat 4,1 kg/ubin glondong atau 6,6 ton glondong/hektare atau sekitar 3,3 ton pipil kering jagung per hek dengan luasan yang sudah panen di Purwodadi mencapai 20 hektare. 

"Kemudian, kacang tanah ubinan mencapai 4 ton gelondong kering panen/ hektare  atau 2 ton/hektare dan yang sudah panen kacang tanah mencapai 80 hektare,"ujarnya pada Selasa (21/1/2025).

Baca juga: Gunungkidul Anggarkan Rp4,9 Miliar untuk Perbaikan RTLH Tahun Ini

Dia melanjutkan dengan metode tumpangsari tersebut, setiap satu hektare petani bisa panen 3 ton gabah Segreng ditambah jagung pipil 3,2 Ditambah lagi dengan tanaman kacang ditanam terakhir. 

Maka secara hitungan kasar dengan harga saat ini gabah Rp6.500 per kg dan jagung pipil Rp 5.500 per kg maka untuk 1 hektare  akan mendapat pendapatan kotor Rp 37 juta. Nilai ini, cukup tinggi bila dibandingkam petani menanam dengan metode biasa.

"Setelah panen musim tanam pertama untuk padi dan jagung, ini akan dilanjutkan tanam kacang tanah kembali di lahan yang sama,"ujarnya.

Hal serupa juga dirasakan Kelompok Tani KWT Marsudi Luhur Kepuh Pacarejo Semanu.Kelompok tani tersebut berhasil menghasilkan ubinan kacang tanah mencapai 2,2 kg per ubin atau 3,6 ton glondong kacang tanah per/hektare atau 1,8 ton wose kacang tanah per/hektare.

Dengan harga glondong mencapai Rp 9.000/per kilogram.

Sementara itu, Danang Sutopo,  Ketua Tim Kegiatan Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Gunungkidul mengatakan akibat metode tumpangsari ini membuat petani di khususnya di zona selatan lebih cepat panen. 

Di mana, semua tanaman padi maupun jagung panen  di zona selatan sudah panen  pada bulan Januari ini.

Sementara itu, i di zone tengah dan utara pertanaman padi masih usia awal pembungaan (merkatak). 

"Dan, di zona selatan sendiri luas tanaman padi  mencapai 8.335 hektare , jagung tanam luasnya mencapai 8.845 hektare  dan kacang tanah tanam  seluas 1.292 hektare. Maka dari itu,  diperkiraan panen massif di Zone Selatan akan terjadi pada  awal Febuari 2025 mendatang,"tandanya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved