Berita Pendidikan Hari Ini

Berawal dari Memijat, Alumni UNY Ini Bisa Raih Gelar Doktor di Usia 25 Tahun

Enggista Hendriko Delano mencetak sejarah sebagai wisudawan termuda program doktoral Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada usia 25 tahun.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Istimewa
Enggista Hendriko Delano, atau yang akrab disapa Enggis, mencetak sejarah sebagai wisudawan termuda program doktoral Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada usia 25 tahun 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Enggista Hendriko Delano, atau yang akrab disapa Enggis, mencetak sejarah sebagai wisudawan termuda program doktoral Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pada usia 25 tahun.

Ia diwisuda pada Upacara Wisuda Periode II Tahun Akademik 2024/2025, Sabtu (30/11/2024) di GOR UNY.

Prestasi ini dicapai melalui penelitian inovatif dalam disertasinya yang berjudul ‘Perbandingan Efek Kombinasi Modalitas Terapi dan Stretching dengan Masase Tepuksorak terhadap Nyeri, Range of Motion, dan Fungsi Gerak Pinggang pada Berbagai Fase Low Back Pain Nonspesifik'.

Dalam penelitiannya, Enggis mengungkapkan bahwa Low Back Pain (LBP) atau lebih dikenal dengan nyeri punggung bawah merupakan salah satu cedera musculoskeletal yang sering dialami oleh pekerja dengan aktivitas fisik berat yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan serius.

Penelitian ini berfokus pada efektivitas dua metode terapi untuk menangani Low Back Pain (LBP) nonspesifik atau nyeri punggung bawah yang penyebab pastinya tidak diketahui secara jelas.

Dalam eksperimennya, Enggis melibatkan 60 pasien dengan keluhan LBP fase sub akut dan kronis, yang dibagi ke dalam beberapa kelompok perlakuan.

Ia membandingkan pendekatan kombinasi alat elektroterapi, seperti SWD (Shortwave Diathermy) dan TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), dengan teknik manual masase tradisional yang dimodifikasi menjadi metode Tepuksorak.

Metode ini mengintegrasikan empat elemen terapi: tekan, pukul, gosok, dan gerak (stretching), sehingga mampu memberikan fleksibilitas penanganan sesuai dengan fase cedera pasien.

Penelitian ini bermula dari pendekatan aplikatif, di mana Enggis memanfaatkan pengalamannya sebagai terapis di Health and Sports Center UNY yang dimulai semenjak Enggis menginjak S2.

“Selama itu, saya menangani beragam kasus cedera musculoskeletal dan data dari pengalaman saya menjadi dasar utama dalam disertasi ini,” katanya.

Temuan dan konsep yang ia kembangkan langsung diterapkan pada pasien, menjadikan penelitian ini relevan sekaligus berdampak nyata dalam praktik klinis sehari-hari.

Hasil penelitian Enggis menunjukkan bahwa metode Tepuksorak lebih efektif dalam meningkatkan fleksibilitas dan fungsi pinggang pada kasus kronis, sementara terapi kombinasi alat elektroterapi, seperti SWD dan TENS, lebih unggul pada fase subakut.

Menggunakan desain eksperimen Randomized Control Group Pretest-Posttest, penelitian ini melibatkan 60 pasien dengan keluhan LBP nonspesifik.

Temuan ini menawarkan alternatif perawatan nonfarmakologis yang tidak hanya efisien dan ekonomis, tetapi juga mudah diterapkan baik di klinik maupun komunitas dengan sumber daya terbatas, khususnya untuk penanganan cedera olahraga.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved