Rangkuman Pengetahuan Umum

Ringkasan Materi PAI Kelas 11 Bab 5 tentang Jejak dan Langkah Nuruddin bin Ali ar-Raniri

Materi ini dilansir dari buku siswa Pendidikan Agama Islam karya Abd. Rahman dan Hery Nugroho.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Buku siswa PAI Kelas 11 SMA
4 Ulama Indonesia Yang Mendunia, salah satunya adalah Nuruddin bin Ali ar-Raniri 

TRIBUNJOGJA.COM- Kali ini kita akan membahas materi Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 11 Bab 5 tentang Jejak dan Langkah Nuruddin bin Ali ar-Raniri.

Materi ini dilansir dari buku siswa Pendidikan Agama Islam karya Abd. Rahman dan Hery Nugroho.

Nuruddin bin Ali ar-Raniri merupakan salah satu ulama Indonesia yang juga mendunia.

Pada artikel ini kita akan membahas terkait dengan riwayat hidupnya, teladan yang dapat dicontoh dan karya tulisnya.

Simak materi berikut untuk mengenal lebih jauh terkait dengan Nuruddin bin Ali ar-Raniri.

Riwayat Hidupnya

Nuruddin bin Ali ar-Raniri memiliki nama panjang yakni Syekh Nuruddin Muhammad bin ‘Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid ar-Raniri al-Quraisyi.

Dilihat dari Namanya beliau memiliki darah keturunan dari suku Quraisyi.

Ayahnya merupakan seoran pedagang Arab yang bergiat dalam Pendidikan agama.

Syekh Nuruddin diperkirakan lahir seitar akhir abad ke-16 di kota Ranir wilayah Gujarat India, dan wafat pada 21 September 1658 M.

Pada tahun 1637 M, ia datang ke aceh dan kemudian menjadi penasehat kesultanan di daerah tersebut sampai tahun 1644.

Syekh Nuruddin mula-mula mempelajari Bahasa Melayu di Aceh, lalu memperdalam pengetahuan agama saat beribadah haji ke Makkah.

Sepulang dari Makkah, didapati bahwa pengaruh Syamsuddin as-Sumatrani sangat besar di Aceh.

Karena tidak cocok dengan aliran wujudiyah, Syekh Nuruddin pindah ke Semenanjung Malaka untuk memperdalam ilmuagama dan Bahasa Melayu.

Teladan yang dapat dicontoh

Pengetahuan Syekh Nuruddin tak terbatas dalam satu cabang ilmu saja, namun sangat luas yang meliputi bidang sejarah, politik, sastra, filsafat, fikih dan tasawuf.

Pada tahun 1637 M, ia kembali ke Aceh dan tinggal selama tujuh tahun.

Saat itu Syekh Syamsuddin as-Sumatrani telah meninggal.

Berkat kuluasan pengetahuannya, Sultan Iskandar Tani (1636 M-1641 M) mempercayainya untuk mengisi jabatan yang ditinggalkan oleh Syamsuddin.

Nuruddin menjabat sebagai Kadi Malik al-Adil, Mufti Besar, ditambah jabatan sebagai Syekh di Masjid Bait al-Rahman.

Karya Tulisnya

Syekh Nuruddin menulis beberapa kitab khusus untuk melawan aliran wujudiyah, antara lain Hill az-Dzill, Syifa al-Qulb, Tibyan fi Ma’rifat al-Adyan, Hujjat al-Siddiq li Daf az-Zindiq, Asrar al-Insan fi Ma’rifat ar-Ruh wal ar-Rahman.

Secara keseluruhan, Nuruddin Ar-Raniri menulis sekitar 30 naskah buku, di antaranya adalah:

1) Al-Shirath al-Msutaqim.

2) Durrat al-Faraid bi Syarh al-‘Aqaid an-Nasafiyah.

3) Hidayat al-Habib fi al Targhib wa’l-Tarhib.

4) Latha’if al-Asrar.

5) Hilal al-Dzhill

6) Syifa al-Qulub

7) Asral an-Insan fi Ma’rifat al-Ruh wa al-Rahman.

8) Akhbar al-khirah fi Ahwal al-Qiyamah.

9) Aina’l-‘Alam Qabl an-Yukhlaq.

10) Hujjat al Shiddiq li da’I al-Zindiq.

Dan masih banyak lagi karyanya.

Bagaiaman tribunners, apakah materiini mmebuat Anda lebih mudah memahami materinya?

Semoga materi ini bisa membantu Anda!

(MG Syefia Syalsya)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved