Citizen Journalism

Menguak Rahasia Anggrek: dari Tanaman Hias Menjadi Sumber Obat Masa Depan

Menguak Rahasia Anggrek: dari Tanaman Hias Menjadi Sumber Obat Masa Depan

ist/dokpri
Menguak Rahasia Anggrek: Dari Tanaman Hias Menjadi Sumber Obat Masa Depan 
  • Menguak Rahasia Anggrek: Dari Tanaman Hias Menjadi Sumber Obat Masa Depan

TRIBUNJOGJA.COM - Tanaman anggrek dengan bunga eksotisnya yang sering menghiasi rumah atau menempel di pohon selalu menarik perhatian karena keindahannya yang luar biasa.

Bentuk kelopak rumit, warna memikat, dan pesonanya yang elegan membuat tanaman ini menjadi tanaman hias dengan nilai ornamen yang sangat tinggi. Namun, dibalik keindahannya yang luar biasa, anggrek ternyata menyimpan potensi yang luar biasa untuk dijadikan obat.

Tidak hanya menawarkan estetika yang memanjakan mata, anggrek juga termasuk tanaman yang langka dan sering sulit didapatkan. Faktor inilah yang menjadikan anggrek memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Dibalik kelangkaan dan keindahannya, terdapat kandungan metabolit sekunder yang berpotensi untuk pengobatan. 

Namun, hal ini masih jarang diteliti. Untuk mengungkapkan potensi anggrek tersebut, diperlukan riset mendalam untuk membuktikan bahan aktif senyawa obat yang terbukti secara empiris. 

Indonesia dengan kekayaan alamnya yang melimpah dan memiliki biodiversitas yang sangat kaya dan beragam, memiliki ribuan spesies anggrek yang tersebar di berbagai daerah dari pegunungan hingga lembah tropis. 

Namun, hal ini masih belum sepenuhnya dieksplorasi, terutama untuk manfaat pengobatan. Penelitian anggrek banyak sekali dibatasi. 

Banyak yang berpikir bahwa eksplorasi anggrek untuk obat bisa berujung pada eksploitasi yang merusak, padahal konservasi dan eksplorasi sebenarnya bisa berjalan beriringan. 

Menguak Rahasia Anggrek: Dari Tanaman Hias Menjadi Sumber Obat Masa Depan
Menguak Rahasia Anggrek: Dari Tanaman Hias Menjadi Sumber Obat Masa Depan (ist/dokpri)

Apabila kita tak segera melakukan penelitian, negara lain bisa saja mendahului dalam mengeksplorasi manfaat anggrek kita, sehingga perlu keterbukaan dan kebijaksanaan dalam hal ini. 

Dalam sejarah, kita sudah sering kehilangan kekayaan alam yang justru ditemukan, dipatenkan, dan dimanfaatkan oleh pihak negara asing. 

Anggrek sudah lama digunakan untuk pengobatan tradisional. Di China, anggrek sering digunakan untuk mengobati penyakit seperti demam, sakit kepala, hipertensi, diabetes, hingga radang amandel. 

Di India anggrek jenis Dendrobium nobile digunakan untuk ramuan ayuveda. Di Indonesia, meskipun belum terlalu populer, beberapa spesies anggrek telah dimanfaatkan untuk pengobatan seperti penyembuhan luka bakar dan penurun demam. 

Hal ini menunjukkan anggrek juga memiliki sifat antimikroba dan antiinflamasi yang menunjukkan potensi besarnya untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi obat. 

Penelitian potensi anggrek menjadi obat belum banyak dikaji, salah satunya mungkin karena ketersediaannya di alam yang terbatas. 

Banyak spesies anggrek tergolong langka, sehingga penelitian yang memerlukan uji klinis dalam skala besar sulit dilakukan. Namun, bukan berarti kita harus berhenti mengeksplorasi potensi medisinal anggrek

Salah satu langkah awal yang bisa diambil yaitu dengan memanfaatkan anggrek yang ketersediaannya lebih banyak di alam, misalnya Dendrobium. 

Spesies ini cukup umum dan telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional di Asia. Mulai dari spesies yang mudah ditemukan, kita bisa mempelajari lebih lanjut manfaatnya sebelum akhirnya mengembangkan penelitian ke spesies anggrek lainnya yang perlu diperbanyak terlebih dahulu agar tetap menjaga kelestarianya pada habitat asli di alam. 

Walaupun pengembangan anggrek sebagai tanaman obat belum maksimal, potensi yang dimilikinya sangat besar, oleh sebab itu alangkah baiknya dikaji lebih dalam melalui riset-riset pengembangan dan pemanfaatan biodiversitas Indonesia secara bijak dan berkelanjutan. 

Bisa jadi anggrek memiliki potensi-potensi untuk mengobati penyakit langka. Penelitian mengenai potensi anggrek di Indonesia tentunya harus tetap diimbangi dengan menjaga kelestariannya di alam, salah satunya dengan langkah konservasi yang didukung dengan bioteknologi yaitu melalui teknik kultur jaringan, sehingga harapannya tercapai keseimbangan alam yang tetap terjaga seiring kemajuan pengobatan. Semoga bisa !

*Oleh: Ni’matul Khoeriyah dan L Nuraini Fakultas Farmasi, Universitas Gadjah Mada & Badan Riset dan Inovasi Nasional

 

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved