Rangkuman Materi PAI

Tema Gibah dan Tabayun: RANGKUMAN BUKU Pelajaran Agama Islam SMP Kelas 7 Bab 8

Gibah termasuk perilaku tercela, kita harus menjaga lisan dari perilaku gibah. Selain itu, Islam mengajarkan untuk selalu bersikap tabayun.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 SMP
Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 SMP Kurikulum Merdeka 

TRIBUNJOGJA.COM – Tribunners pasti sudah mengetahui bahwa gibah dapat membawa dampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain.

Selain itu, Islam mengajarkan untuk selalu bersikap tabayun sebelum menyebarkan informasi.

Bab 8 ini berisikan materi tentang Menghindari Gibah dan Melaksanakan Tabayun. 

Materi ini dilansir dari buku Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti karya Rudi Ahmad Suryadi dan Sumiyati.

Pada materi ini, siswa diharapkan mampu mendeskripsikan pesan Islam untuk harmonisasi sosial dengan menghindari gibah dan menumbuhkan sikap tabayun dengan benar.

Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 SMP Kurikulum Merdeka
Buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 7 SMP Kurikulum Merdeka 

Berikut di bawah ini penjabaran materi Pendidikan Agama Islam Kurikulum Merdeka Kelas 7 SMP Bab 8

A. Islam Melarang Gibah

Gibah berarti menggunjing, membicarakan kejelekan dan kekurangan orang lain.

Pada gibah, terdapat pembicaraan mengenai kejelekan atau aib orang lain.

Islam melarang umatnya untuk gibah

Gibah diibaratkan memakan daging saudaranya sendiri yang telah mati.

Hal ini ditegaskan dalam Alquran,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujurat ayat 12).

Berdasarkan ayat di atas orang yang beriman didorong untuk menjauhi prasangka buruk, apalagi tidak disertai bukti.

Sebagian prasangka yang tidak disertai bukti adalah perbuatan dosa.

Ayat tersebut menjelaskan pula bahwa gibah merupakan perbuatan keji.

Orang yang gibah disamakan dengan orang yang makan daging bangkai saudaranya sesama muslim.

Gibah merupakan perbuatan yang dilarang dan menjijikkan. 

Tribunners, pernahkah mendengar ungkapan “lidah tidak bertulang”.

Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa lidah yang lunak ternyata dapat menyakiti hati.

Gibah adalah salah satu bahaya lidah.

Gibah termasuk perilaku tercela, juga banyak menyebar di masyarakat.

Oleh karena itu, kita harus menjaga lisan dari perilaku gibah.

 

B. Inspirasi Islami untuk Menghindari Gibah

Perbuatan gibah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar.

Berikut ini beberapa penyebab terjadinya gibah, di antaranya:

a. Membicarakan keburukan orang lain dengan keinginan mengangkat derajat dirinya sendiri.

b. Sikap iri terhadap keberhasilan dan kesuksesan orang lain.

c. Sikap egois yang cenderung merendahkan orang lain.

d. Balas dendam terhadap orang lain atas perilaku terhadap dirinya.

e. Amarah yang tidak terkendali.

f. Bercanda tanpa disadari dengan merendahkan orang lain.

 

Oleh karena itu, agar dapat menghindari hal ini, dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:

a. Berkumpul dengan orang-orang saleh.

b. Menyadari diri bahwa Allah Swt membendi seseorang yang menggunjing saudaranya.

c. Berinstropeksi diri dengan melihat aib diri sendiri dan selalu berusaha memperbaikinya.

d. Menjaga lisan.

e. Berpikir positif.

f. Memohon perlindungan kepada Allah Swt dengan berdoa. 

Baca juga: Rangkuman Materi PAI Kelas 7 SMP Bab 5: Tentang Peradaban Timur Islam

C. Islam Mengajurkan Tabayun

Secara bahasa, tabayun berarti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas dan benar keadaannya.

Adapun menurut istilah, tabayun adalah proses yang dilakukan untuk meneliti dan menyeleksi berita, dengan sikap tidak tergesa-gesa dalam memutuskan, sehingga permasalahan menjadi jelas dan benar.

Sebagaimana dalam firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujurat ayat 6).

Maksud ayat di atas ialah, agama memberikan perintah agar manusia dapat meneliti berita yang dibawa oleh orang-orang fasik.

Hal ini dilakukan dalam rangka mewaspadainya.

Keputusan terhadap berita tersebut jangan langsung diambil, sebelum berita itu jelas kebenarannya.

 

D. Tabayun pada Informasi Media Sosial

Media sosial ini telah menjadi sarana umum kehidupan individu untuk berkomunikasi dengan sesama.

Informasi yang menyebar di kalangan remaja dipandang cepat akibat media sosial.

Tak heran, jika media sosial memiliki dampak negatif, seperti:

a. Kebebasan informasi

b. Sikap sosial yang melemah

c. Kelalaian dalam berkewajiban

Maka dari itu, diperlukan sikap tabayun layaknya, mencari tahu sumber informasi dipastikan dengan benar, isi informasi berisi kebenaran, serta pastikan tempat dan waktu informasi yang diperoleh adalah benar. 

 

E. Memetik Hikmah dari Tabayun

Tabayun memiliki manfaat penting dalam pencermatan informasi yang diperoleh.

Sikap sombong, egois, fanatik, merasa sudah paham, dan malas mencari kebenaran akan menghambat proses tabayun.

Tanpa tabayun, kesalahpahaman akan sering terjadi.

Tabayun berkaitan erat dengan moral.

Berikut ini beberapa manfaat tabayun, di antaranya:

a. Berhati-hati dalam menerima berita.

b. Menghargai orang lain sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.

c. Berbaik sangka terhadap sesame sehingga dapat menimbulkan kerukunan dan kedamaian.

d. Persatuan dan kesatuan dapat terjaga baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sekitarnya.

e. Menciptakan kerukunan dan kedamaian di masyarakat.

Setelah memahami materi ini, mari kita lebih menjaga dan memberikan control atas diri kita. 

Seperti halnya, berjaga-jaga dalam berbicara, serta menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama. ( MG Maryam Andalib )

Baca juga: RANGKUMAN Materi PAI Kelas 7 SMP Pendidikan Agama Islam, Tugas dan Hikmah Beriman kepada Malaikat

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved