Berita Bisnis Terkini

ASITA DIY Usul Kuota Kunjungan ke Candi Borobudur Ditambah Jadi 2.500 Per Hari

Kuota 1.200 yang ditetapkan pemerintah sangat kurang, dan belum mencukupi kebutuhan kunjungan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara (wisman).

Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Gaya Lufityanti
Tribunjogja.com/Yuwantoro Winduajie
Candi Borobudur dipadati wisatawan saat momen libur sekolah, Jumat (5/7/2024). 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Association Of The Indonesian Tours & Travel Agencies (ASITA) DIY mengusulkan kuota wisatawan naik ke Candi Borobudur ditambah menjadi 2.500 per hari.

Menurut Pelaksana Tugas Ketua ASITA DIY, Edwin Ismedi Himna, kuota 1.200 yang ditetapkan pemerintah sangat kurang, dan belum mencukupi kebutuhan kunjungan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara (wisman).

“Kalau idealnya 2.500an (kuota naik Candi Borobudur). Karena 1.200 itu sangat kurang, yang sembahyang, tamu negara, wisman yang berkunjung juga masuk ke situ (kuota 1.200),” katanya, Minggu (11/08/2024).

Pihaknya juga sempat mengusulkan agar sesi kunjungan ditambah dan dimulai lebih awal.

“Kami mengusulkan sesi kunjungan jam 06.00. Tetapi ternyata selama ini sudah dibuka, tetapi khusus untuk ibadah. Kami nggak mau juga mengganggu ibadah umat Budha. Ya memang harus ditambah kuotanya. Kalau per sesi itu 150, ya lebih dari 150,” sambungnya.

Ia mengungkapkan Candi Borobudur menjadi magnet kuat bagi wisman untuk berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya Eropa.

Edwin menyebut wisman Eropa yang berkunjung ke DIY dan ke Borobudur harus naik ke candi.

Begitu pula dengan wisman asal Jepang dan Korea Selatan.

Wisatawan kedua negara tersebut tidak akan datang ke DIY jika tidak bisa naik ke Candi Borobudur .

“Berbeda dengan (wisatawan) domestik, kalau sudah pernah naik ke Candi Borobudur, nggak nggak wajib naik lagi. Tetapi kalau wisman khususnya Eropa, kalau udah ke sana, wajib naik. Sehingga kuota ini memang harus dikaji kembali,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga menyoroti waktu kunjungan yang hanya dibatasi satu jam per sesi.

Ia menilai waktu kunjungan terlalu singkat.

Tidak sedikit pula wisman yang mengeluhkan hal tersebut.

Waktu kunjungan yang teratas itu membuat wisman tidak bisa mendapatkan informasi yang lengkap dari ribuan relief di Candi Borobudur

“Satu jam juga terlalu singkat, wisatawan hanya mendapatkan garis besarnya saj. Sehingga informasi lainnya diberikan saat dalam perjalanan atau setelah turun (dari Candi Borobudur), atau dari audiovisual lainnya. Paling tidak 2,5 jam itu lumayan lengkap,” imbuhnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved