Ayam Ingkung, Tradisi Kuliner Jawa yang Kaya Makna
Ayam ingkung, hidangan ayam utuh yang dimasak dengan cara tradisional, merupakan salah satu kuliner legendaris di Jawa.
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Ayam ingkung, hidangan ayam utuh yang dimasak dengan cara tradisional, merupakan salah satu kuliner legendaris di Jawa.
Lebih dari sekadar hidangan lezat, Ayam Ingkung memiliki makna dan filosofi yang mendalam, menjadikannya bagian penting dalam berbagai upacara adat Jawa seperti kenduri, nyadran/ruwahan, dan rasulan.
Dikutip dari buku "Atlas Walisongo" karya Agus Sunyoto, Ayam Ingkung berakar dari tradisi Ayam Tu-kung, sesaji dalam agama Kapitayan yang berkembang sebelum Islam masuk ke Nusantara.
Lambat laun, Ayam Tu-kung berevolusi menjadi Ayam Ingkung, disajikan bersama tumpeng sebagai simbol persembahan dan doa.
Kata "Ingkung" berasal dari kata Jawa kuno "jinakung" yang berarti mengayomi dan "manekung" yang berarti memanjatkan doa.
Pemilihan ayam sebagai bahan utama melambangkan manusia, dan Ayam Ingkung yang disajikan utuh dengan posisi bersungkur mencerminkan kerendahan hati dan doa kepada Sang Pencipta.
Di Bantul, Yogyakarta, terdapat Ingkung Cancut Taliwondo Mbah Kentol, usaha kuliner yang didirikan Mbah H. Raden Dalijan pada tahun 2015.
Baca juga: Nilai Ekspor DIY pada Mei 2024 Tembus 43,43 Juta Dollar AS
Mbah Dalijan terinspirasi dari sejarah perjuangan melawan penjajah dan ingin melestarikan seni budaya Jawa.
"Nama Cancut Taliwondo dipilih untuk mewakili semangat, keberanian, dan persatuan. Mbah Dalijan menyajikan Ayam Ingkungnya dengan cara unik, menggunakan kreneng, wadah anyaman bambu yang diikat dengan tali suh selama dimasak selama 4 jam," terang Mbah H. Raden Dalijan atau yang akrab disapa Mbah Kentol.
Hal ini melambangkan NKRI yang mencapai persatuan dan keamanan di bawah kepemimpinan Presiden RI setelah kemerdekaan.
Ayam Ingkung Cancut Taliwondo Mbah Kentol disajikan dengan kuah santan hasil rebusan ayam, lalapan sambal, dan tumis daun pepaya.
Setiap minggu, Mbah Dalijan biasanya menjual 10-20 ekor Ayam Ingkung.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Bantul, Ingkung Cancut Taliwondo Mbah Kentol buka dari jam 10.00 hingga 20.00 WIB.
Menikmati Ayam Ingkung di sini bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyelami kekayaan tradisi dan filosofi budaya Jawa. (HAN)
| Dugaan Tarif Nuthuk, Dinas Pariwisata Bantul Bakal Klarifikasi Warung Pantai Depok dan Parangtritis |
|
|---|
| Kuliner Bantul: Rekomendasi Jajan Legendaris di Wilayah Bantul |
|
|---|
| 6 Kuliner Wajib Kamu Coba di Pasar Klithikan Pakuncen, Murah dan Kenyang |
|
|---|
| Rekomendasi 6 Kuliner yang Wajib Dicoba di Pasar Klithikan Pakuncen Jogja, Murah dan Kenyang |
|
|---|
| Mencicipi Ramen Mura, Kuliner Khas Jepang dengan Harga Ramah di Kantong |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Ayam-Ingkung-Tradisi-Kuliner-Jawa-yang-Kaya-Makna.jpg)