Berita Lengkap Kasus Tewasnya Mahasiswa STIP yang Diduga Dianiaya Senior
Seorang mahasiswa tingkat 1 Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Cilincing, Jakarta Utara, Putu Satria Ananta Rustika (19) tewas diduga dianiaya.
Pihak keluarga Putu Satria Ananta Rustika, taruna STIP yang tewas usai diduga dianiaya oleh seniornya, menduga pelaku penganiayaan berjumlah lebih dari satu orang.
Pengacara keluarga, Tumbur Aritonang mengatakan dugaan tersebut berdasar informasi awal yang diterima bahwa ada lebih dari satu orang masuk ke toilet STIP Jakarta tempat Putu diduga dianiaya.
"Kalau yang saya dengar infonya ada empat orang ya. Cuman saya belum bisa mastiin berapa orang total pelakunya, kita baru dapat informasi saja," kata Tumbur.
Pihak keluarga tidak dapat memastikan jumlah pelaku karena belum dapat melihat secara langsung rekaman CCTV di sekitar area toilet STIP Jakarta tempat kejadian perkara.
Hanya saja, menurut pihak keluarga bila terdapat orang lain membantu dan terlibat dalam tindak pembunuhan maka jumlah pelaku yang diproses hukum patutnya lebih dari seorang.
"Kalaupun dia enggak mukul tapi ada di situ, megangin (tubuh korban) misal seharusnya dia jadi tersangka. Enggak bisa dia beralibi saya cuma lihat, enggak mukul atau pegangin doang," ujarnya.
Menurut pihak keluarga, Putu merupakan sosok anak yang baik dan tidak memiliki musuh di lingkungan pertemanan. Motif pembunuhan pun sementara diduga karena senioritas.
"Tim kuasa hukum juga berkepentingan untuk tahu ya. Apakah ini murni senioritas atau perundungan, atau ada motif lain. Misalnya balas dendam atau punya masalah," tuturnya.
Diketahui, Putu Satria tewas usai dianiaya di dalam toilet koridor kelas KALK C, lantai 2 gedung STIP Jakarta, Jumat(3/5/2024) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Penganiayaan ini terjadi ketika korban dan empat rekan seangkatan lainnya sedang mengecek salah satu ruang kelas.
Saat turun ke lantai 2, rombongan korban dipanggil oleh tersangka yang saat itu juga sedang bersama-sama dengan empat orang lainnya yang merupakan taruna tingkat 2 STIP Jakarta. Saat itu tersangka menanyakan alasan korban dan empat teman seangkatannya mengenakan baju olahraga.
"Pelaku bersama empat rekannya, mereka menyebut sebagai tradisinya taruna. Ada penindakan terhadap junior, karena dilihat ada yang salah menurut persepsinya senior, sehingga dikumpulkan di kamar mandi," kata kata Kapolres Metro Jakarta Utara Kombes Gidion Ari.
Sebenarnya, Tegar tidak sendiri pada aksi kekerasan senioritas itu. Gidion menjelaskan, saat peristiwa terjadi, Putu sedang bersama empat temannya.
Sementara, Tegar pun bersama empat temannnya. Selain Putu, rencananya Tegar dan empat teman seangkatannya di tingkat 2 akan menghajar empat junior lainnya yang merupakan teman korban.
Namun, Putu yang berada di urutan pertama untuk dipukul sudah terlanjur lemas dan terkapar sehingga pemukulan terhadap empat taruna lain pun dibatalkan Tegar dan rekan-rekannya.
"Yang dikumpulkan di kamar mandi ini ada lima orang. Nah, korban ini adalah orang yang mendapatkan pemukulan pertama dan yang empat belum sempat," kata Gidion.
| Daftar 9 Orang yang Tewas Dalam Unjukrasa di Indonesia Sejak 28 Agustus Hingga 1 September |
|
|---|
| Identitas Korban Tewas Kecelakaan Bus ALS di Padang Panjang |
|
|---|
| Pesan Terakhir Korban Laka Panther vs Bus di Gresik: Terasa Jauh tapi Dekat, Semoga Hidup yang Lama |
|
|---|
| KISAH Penumpang Isuzu Panther Dapat Bonus Umrah, Laka Maut di Gresik Kejar Penerbangan Pesawat |
|
|---|
| Identitas Korban Tewas Laka Maut Panther vs Bus di Gresik, 7 Tewas, 2 Luka |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ketua-kpps-di-sleman-ditemukan-meninggal-ini-kronologi-dan-penyebabnya-berdasar-penyelidikan-polisi.jpg)