Ramadan 2024

Jelang Ramadan, Ini Arahan PBNU untuk Warga NU

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengadakan pertemuan secara daring menjelang bulan Ramadan 2024

Editor: Joko Widiyarso
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. PBNU mengimbau jangan kampanye di tempat ibadah. 

TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengadakan pertemuan secara daring menjelang bulan Ramadan 2024.

Pertemuan ini diikuti oleh 5.000 orang yang berasal dar seluruh jaringan pengurus NU di tingkat provinsi, kabupaten kota hingga luar negeri.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengungkapkan KH Miftachul Akhyar memberikan sejumlah arahan dalam konsolidasi kali ini.

"Dari laporan para pengurus wilayah dan cabang, masyarakat relatif dalam keadaan kondusif. Walaupun ada masalah ini itu tapi tidak ada yang terlalu meresahkan bagi masyarakat. Semuanya berjalan dengan baik dan suasana juga tenang dan kondusif," kata Gus Yahya saat konferensi pers di Kantor PBNU, Jln Kramat Raya, Jakarta, Sabtu (9/3/2024).

Dalam arahannya, KH Miftachul Akhyar membahas tentang langkah yang mesti dilakukan warga Nahdliyin dalam menyambut bulan Ramadan.

"Di dalam arahan-arahan Rais Aam, tadi banyak disinggung tentang bagaimana kita menyongsong Ramadan yang sebentar lagi datang," ungkap Gus Yahya.

Menurut Gus Yahya, momentum Ramadan adalah kesempatan berkonsolidasi secara menyeluruh.

Dirinya meminta seluruh jaringan NU, seperti GP Ansor, Muslimat, Fatayat, dan badan otonom lainnya untuk melakukan konsolidasi.

"Ini adalah kesempatan untuk bersama-sama menggerakan memobilisasi satu gerakan mengambil barokah dari Ramadan ini sebesar-benarnya," tutur Gus Yahya.

PBNU juga menginstruksikan kepada jaringan NU melalui pengurus di semua tingkatan untuk mengamalkan sejumlah doa-doa yang diajarkan oleh para kiai NU.

Dalam rapat ini, KH Miftachul Akhyar juga secara khusus mengajarkan untuk mendoakan Indonesia agar tetap terpelihara kemaslahatannya.

Selain itu, para pengurus PBNU juga diimbau untuk mendoakan warga Palestina yang mengalami serangan Israel.

"Juga mendapatkan pertolongan untuk terus maju meningkatkan kapasitasnya sebagai negara yang sungguh-sungguh lebih kuat, lebih maju, dan lebih kuat dan kemaslahatan secara umum. Kami juga secara khusus doa untuk saudara-saudara kita di Palestina," ucapnya.

Bulan Ramadan, menurut Gus Yahya, adalah momentum untuk memperbanyak pahala melalui ibadah-ibadah.

Sementara itu, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti menyarankan agar Kementerian Agama RI tak lagi menggelar sidang isbat penentuan awal Ramadhan 1445 Hijriyah.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved