Berita Video

Dampak Serangan pada Kapal kapal Kargo di Laut Merah terhadap Perdagangan Global

Serangan Houthi di Yaman terhadap kapal-kapal komersial yang melewati Laut Merah mengakibatkan banyak perusahaan pelayaran memutuskan memutar jalur.

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Agus Wahyu

TRIBUNJOGJA.COM - Serangan para pemberontak Houthi di Yaman terhadap kapal-kapal komersial yang melewati Laut Merah telah mengakibatkan banyak perusahaan pelayaran memutuskan untuk menghindari perairan yang merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia itu.

Kelompok Houthi telah menyatakan dukungannya terhadap kelompok Hamas di Gaza, Palestina. Bentuk dukungannya adalah menyerang kapal-kapal komersial yang melakukan perjalanan ke Israel.

Walau tidak pernah jelas apakah semua kapal yang diserang benar-benar sedang menuju Israel atau tidak.

Pasukan Angkatan Laut AS dan Inggris di Laut Merah telah melancarkan serangan udara terhadap sejumlah sasaran milik pemberontak Houthi di Yaman sebagai tanggapan atas serangan terhadap kapal-kapal kargo itu.

Kelompok Houthi melancarkan serangan sejak dimulainya perang Israel-Hamas pada 7 Oktober lalu. Kelompok militan itu, yang didukung Iran, telah menggunakan drone dan roket untuk menyerang kapal-kapal asing yang mengangkut barang melalui selat Bab al-Mandab, sebuah perairan selebar 32 km yang memisahkan Eritrea dan Djibouti di sisi Afrika dan Yaman di sisi Semenanjung Arab.

Kapal-kapal biasanya mengambil rute ini dari selatan untuk mencapai Terusan Suez di Mesir sebelum berlayar lebih jauh ke utara. Namun karena adanya serangan-serangan itu, beberapa perusahaan pelayaran terbesar di dunia, termasuk Mediterranean Shipping Company dan Maersk, telah mengalihkan kapal-kapal mereka ke rute yang lebih panjang, yaitu ke Tanjung Harapan di Afrika Selatan dan kemudian terus belayar di sisi barat Afrika untuk sampai ke Eropa.

Penelitian MUFG atau Mitsubishi UFJ Financial Group menyatakan, serangan di Laut Merah itu telah menyebabkan “pengalihan perdagangan internasional terbesar dalam beberapa dekade”.

Menurut data Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan atau Unctad, serangan tersebut telah mendorong lima perusahaan pelayaran kontainer terbesar di dunia, yang mewakili sekitar 65 persen kapasitas pengiriman global, menghentikan perjalanan melalui Terusan Suez.

Lalu lintas pelayaran pun telah turun sekitar 39 persen sejak awal Desember, sehingga menyebabkan penurunan 45 persen tonase muatan. Dampaknya adalah melonjaknya harga yang dikenakan untuk mengirimkan barang antara Asia ke Eropa karena kapal-kapal harus melipir-mengelilingi benua Afrika.

Pentingnya Terusan Suez dan Laut Merah bagi perdagangan global tidak dapat disepelekan, kata Fabrice Maille, kepala pelayaran global di London Stock Exchange Group atau LSEG.

Karena itu, dampak konflik ini sangat besar, menyebabkan pengambilan keputusan yang sangat sulit terkait biaya dan risiko keamanan, ujar Maille.

Menurut data LSEG, pengalihan pelayaran itu telah meningkatkan waktu transit kapal tanker Suezmax dari rata-rata 16 menjadi 32 hari. Perjalanan yang lebih panjang itu selain menambah waktu setidaknya 10 hari juga merugikan perusahaan senilai jutaan dolar.

Biaya rata-rata pengiriman dari Shanghai di China ke Inggris telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal Desember 2023, dan biaya pengiriman ke Eropa meningkat lebih dari tiga kali lipat. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved