Hadis Harian

Hadits Arbain Ke-4, Proses Penciptaan Manusia dan Mengimani Takdir

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami dan beli

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
pixabay
hadits arbain 4 proses penciptaan manusia 

TRIBUNJOGJA.COM - Pada hadits ke-4 dalam kitab hadits Arba’in An-Nawawi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada para sahabatnya tentang proses penciptaan manusia serta takdir yang telah di tetapkan atas semua makhluk hidup.

Dalam hadits ke-4 ini juga mengajarkan kepada kita bahwa dunia hanyalah tempat sementara. Seperti seorang musafir, seorang yang telah dilahirkan oleh ibunya sedang berjalan menuju sebuah kampung.

Dalam perjalanannya ia mampir sebentar sekadar berteduh, mengambil napas, dan menguatkan diri agar dapat melanjutkan perjalanan kembali. Dunia ini ibarat tempat berteduh menuju kampung yang abadi yaitu akhirat.

Berikut hadits ke-4 dalam kitab hadits Arba’in An-Nawawi,

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ   ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ  الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani (nuthfah) selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya. Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain-Nya.

Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta. Akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli surga  maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari, no. 6594 dan Muslim, no. 2643)

Menurut Imam An-Nawawi dalam syarah Hadits Arba’in, hadits ini berisi tidak bolehnya memvonis masuk surga atau neraka. Meskipun ia melakukan semua jenis kebaikan atau sebaliknya hanya melakukan kefasikan.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anhu adalah salah seorang sahabat senior Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau termasuk orang yang pertama kali masuk Islam. Beliau juga adalah ahli Al-Qur’an dari kalangan Sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalam sebuah hadits shahih, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan tentang keutamaan beliau:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

“Barangsiapa senang membaca Al Qur’an dengan benar sebagaimana ketika diturunkan, maka hendaklah ia membaca berdasarkan bacaan Ibnu Ummi ‘Abd (Abdullah bin Mas’ud)” (HR. Ibnu Majah)

 

Faedah Hadits :

  1. Pembentukan manusia dalam rahim mulai dari nuthfah (setetes mani), ‘alaqah (segumpal darah), mudhgah (segumpal daging) masing-masing selama 40 hari.
  2. Janin sebelum 4 bulan tidak dihukumi sebagai manusia hidup. Seandainya ia gugur sebelum genap empat bulan, maka tidak dimandikan, tidak dikafani dan tidak disholatkan.
  3. Seaindainya ia gugur setelah genap 4 bulan maka sudah dihukumi manusia hidup dan wajib dimandikan, dikafani dan disholatkan.
  4. Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa janin boleh digugurkan jika belum mencapai 120 hari karena ruh belum ditiupkan. Sedangkan ulama Syafi’iyah dan Hambali menyatakan bahwa boleh menggugurkan di bawah 40 hari dengan menggunakan obat yang mubah. Adapun jika melewati 40 hari masa kehamilan tidaklah dibolehkan dikarenakan sudah terbentuk segumpal darah.
  5. Dalam hadits dari Abu Hudzaifah disebutkan, “Jika sudah terbentuk nuthfah setelah 42 hari, maka Allah akan mengutus malaikat untuk membentuk nuthfah tersebut sehingga terbentuk pendengaran, penglihatan, kulit, daging dan tulang.” (HR. Muslim, no. 2645).
  6. Ulama Malikiyah sendiri berpandangan bahwa kandungan tidak boleh digugurkan setelah terbentuk nuthfah (bercampurnya sel sperma dan sel telur) walau lewat satu hari. Karena ketika itu telah dimulainya kehidupan dan wajib dimuliakan. Pendapat terakhir ini yang lebih kuat, menggugurkan hanya boleh jika darurat saja karena alasan yang dibenarkan dari pakarnya.
  7. Imam Ahmad berpendapat bahwa jika keguguran setelah 4 bulan (120 hari), maka janin dishalatkan, dikafani dan dikuburkan. Sedangkan ulama lainnya seperti Syafi’iyah berpandangan bahwa mesti menunggu sampai bayi tersebut lahir. Karena jika janin gugur dalam kandungan, maka tidak dianggap manusia sehingga tidak perlu dishalatkan. Namun pendapat pertama dari Imam Ahmad itulah yang lebih kuat.
  8. Rezeki, jodoh, ajal, bahagia,sengsara,miskin,kaya dari setiap manusia sudah diketahui, dicatat dan dikehendaki oleh Allah.
  9. Manusia tidak mengetahui takdir yang sudah ditetapkan kepadanya, sehingga manusia harus tetap harus ada usaha dan amal, tidak boleh ia hanya sekedar pasrah pada takdir.
  10. Ada seseorang yang gemar berbuat fasik atau sering berbuat dosa besar dalam pandangan manusia namun di akhir hidup nya ia mendapatkan khusunul khotimah (mati yang bagus). Begitupun sebaliknya ada seseorang yang gemar beramal soleh namun diakhir hidupnya ia mendapatkan suul khotimah (mati yang jelek).

(MG An-Nafi)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved