Berita Sleman Hari Ini

Musim Pancaroba, Waspadai Bencana Hidrometeorologi 

Pada masa peralihan ini sering terjadi bencana hidrometeorologi, di antaranya kekeringan, longsor, banjir, badai petir, hingga angin kencang.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
dok.istimewa
Ilustras 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Bandan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ) Yogyakarta, meminta masyarakat waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi.

Sebab, di bulan November ini, wilayah DIY sudah memasuki periode peralihan atau masa pancaroba .

Beberapa wilayah juga sudah mulai turun hujan meskipun masih kategori intensitas ringan. 

Kepala Stasiun Meteorologi, BMKG Yogyakarta , Warjono mengatakan pantauan dari radar cuaca BMKG, wilayah DIY yang sudah turun hujan meliputi sebagian Kota Yogyakarta , Kulon Progo bagian utara, sebagian besar Sleman, Bantul bagian utara dan Gunungkidul bagian barat dan selatan.

Curah hujan masih ringan berkisar 0,5-20 milimeter per hari.

Menurut dia, pada masa peralihan ini sering terjadi bencana hidrometeorologi, di antaranya kekeringan, longsor, banjir, badai petir, angin kencang atau puting beliung. 

"Wilayah DIY termasuk sering mengalami bencana hidrometeorologi. Kita mengenal wilayah Sleman dengan potensi bencana hidrometeorologi berupa angin kencang juga badai petir hingga menyebabkan pohon, baliho, atap rumah, papan reklame rusak akibat angin kencang. Serta waspada potensi hujan lebat di lereng Merapi yang bisa menyebabkan banjir lahar dingin," katanya, Kamis (9/11/2023). 

Wilayah lain juga serupa.

Baca juga: Sambut Musim Penghujan, Relawan Kampung Tangguh Bencana di Kota Yogyakarta Mulai Disiagakan

Warjono mengatakan, di wilayah Kulon Progo, potensi bencana hidrometeorologi berupa longsor terutama wilayah dengan topografi berbukit seperti Kulon Progo bagian utara hingga tengah.

Sedangkan wilayah Kota Yogyakarta dan Bantul memiliki potensi banjir karena keberadaannya di wilayah dataran rendah.

Adapun di Gunungkidul memiliki potensi bencana kekeringan akibat musim kemarau yang sudah berlangsung beberapa bulan ini juga potensi banjir, angin kencang juga pernah dilaporkan terjadi. 

Untuk mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana hidrometeorologi, kata Warjono, beberapa langkah mitigasi bisa dilakukan oleh masyarakat.

Antara lain dengan memperbaiki drainase untuk mencegah atau mengurangi risiko banjir.

"Memangkas pohon yang dahannya dirasa terlalu lebat dan tidak membuang sampah di sungai yang dapat menghambat aliran air," ujar dia. 

Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Sleman , Bambang Kuntoro mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana angin kencang di masa peralihan.

Menurut dia, langkah antisipasi telah dilakukan dengan menggelar rapat koordinasi bersama Kasi Trantib atau Kepala Jawatan Keamanan tingkat Kapanewon se- Kabupaten Sleman pada akhir Oktober lalu. Tujuannya untuk mulai memitigasi potensi bencana di wilayah masing-masing.

"Masyarakat diimbau untuk mulai melaksanakan kerjabakti, gotong-royong pemotongan ranting-ranting pohon yang sudah lebat dan berpotensi tumbang. Selokan-selokan yang kemungkinan mampet juga mulai dibersihkan, agar bisa menampung limpahan air hujan. Kemudian bagi pengendara, jika hujan lebat kami imbau berhati-hati," katanya.( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved