Berita Bisnis Terkini
Keluhkan Kenaikan Harga Kedelai, Produsen Tempe di Gunungkidul Terpaksa Kecilkan Ukuran
Para produsen tempe di Kabupaten Gunungkidul mulai mengeluhkan naiknya harga kedelai impor yang tembus Rp12.700 per kilogram.
Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Para produsen tempe di Kabupaten Gunungkidul mulai mengeluhkan naiknya harga kedelai impor yang tembus Rp12.700 per kilogram.
Di tengah kenaikan harga tersebut, para produsen pun terpaksa mengurangi ukuran produksinya.
Satu di antaranya, Ari Wijanarka (56), produsen tempe di Dusun Seneng, Desa Siraman, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunungkidul .
Dia mengatakan, kenaikan harga kedelai sudah berlangsung sejak tiga bulan lalu.
Sebelumnya, harga kedelai normal di kisaran Rp10.300-Rp10.500 per kilogram.
"Dengan kenaikan harga kedelai yang signifikan ini, kami perajin menyiasatinya dengan mengecilkan ukuran. Kalau saya yang tadinya itu satu lonjor bisa dipotong menjadi 8 bagian sekarang menjadi 9 bagian. Selain itu, ukurannya juga dibuat lebih tipis," ujarnya saat ditemui di rumahnya pada Kamis (9/11/2023).
Ari mengatakan, dipilihnya mengurangi ukuran tempe merupakan permintaan dari para pedagang.
Baca juga: Harga Kedelai Impor Kembali Melejit, Perajin Tahu di Kulon Progo Makin Menjerit
Sebab, jika harga tempe di pasaran dinaikkan akan lebih sulit dijual.
"Kalau harga tempenya dinaikkan itu sulit. Karena, pedagang eceran itu kalau dinaikkan harga bakal sulit menjualnya . Makanya diminta dikecilin saja namun harganya tetap. Untuk harga tempe ini saya jual satu lonjornya Rp9000, jadi tidak ada kenaikan sama sekali,"ungkapnya.
Di tengah kenaikan tersebut, kata dia, untuk jumlah produksi tidak pernah dikurangi.
Dalam sehari bisa menghabiskan hingga 1 kuintal kedelai impor.
"Tidak ada pengurangan produksi, hanya saja untuk menekan harga saya sempat beralih ke merek lain. Awalnya memakai merek Bola Hijau ditawari ke merek BW Biru, karena harganya lebih murah sekitar Rp200-300 an,"terangnya.
Hal serupa juga dilakukan oleh Sriatun produsen tempe di Dusun Kepek I, Desa Banyusoco, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul .
Dia mengatakan, kenaikan harga kedelai membuat para produsen tempe harus memutar otak, agar bisa memenuhi kebutuhan pasar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Keluhkan-Kenaikan-Harga-Kedelai-Produsen-Tempe-di-Gunungkidul-Terpaksa-Kecilkan-Ukuran.jpg)