Puisi Goenawan Mohamad

Puisi Di Depan Sancho Panza Goenawan Mohamad: Di depan Sancho Panza yang lelah, seorang perempuan

Puisi Di Depan Sancho Panza Goenawan Mohamad: Di depan Sancho Panza yang lelah, seorang perempuan

Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Yudha Kristiawan
zoom-inlihat foto Puisi Di Depan Sancho Panza Goenawan Mohamad: Di depan Sancho Panza yang lelah, seorang perempuan
net via easystudyschool
Goenawan Mohamad. Puisi Di Depan Sancho Panza Goenawan Mohamad: Di depan Sancho Panza yang lelah, seorang perempuan

Puisi Di Depan Sancho Panza Goenawan Mohamad


Di depan Sancho Panza yang lelah,

seorang perempuan bercerita tentang sajak

yang disisipkan ke dalam hujan

yang tak tidur.

 

Tentu saja Sancho tak mengerti

bagaimana sajak disisipkan

ke dalam hujan, tapi ia mengerti

cinta yang sungguh. Dipegangnya tangan

perempuan itu dan berkata, “Jangan cemas.”

 

Memang sebenarnya perempuan itu cemas:

Seseorang mencintainya dan ia tak tahu

untuk apa. Ia tak tahu kenapa sajak-sajak tetap terbuang

dan laki-laki itu tetap menuliskannya, sementara hujan

hanya datang kadang-kadang. Malah guruh lebih sering,

seperti brisik kereta langit yang menenggelamkan

antusiasme yang tak lazim. Atau logat yang asing.

Atau angan-angan yang memabukkan.

 

“Semua ini jadi lucu,” kata perempuan itu.

Dan Sancho pun sedih. Sebab ia pernah melihat seorang kurus,

tua dan majenun, yang memungut sajak yang lumat

dalam hujan, yang percaya telah mendengar sedu-sedan

dan cinta dari cuaca, meskipun yang ia dengar

adalah sesuatu yang panjang dan sabar

seperti gerimis.

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved