Berita Sleman Hari Ini
Hujan Ringan Mulai Turun di Sebagian Wilayah Sleman
Hujan ringan terpantau turun di sebagian wilayah Seturan, Depok, pada Selasa (17/10/2023) siang.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Hujan ringan dikabarkan mulai turun di sebagian wilayah Kabupaten Sleman , setelah dilanda hari tanpa hujan cukup panjang di musim kemarau.
Berdasarkan pantauan citra radar cuaca milik BMKG DI Yogyakarta, hujan ringan terpantau turun di sebagian wilayah Seturan, Depok, pada Selasa (17/10/2023) siang.
Meskipun masih ringan, hal ini mengawali adanya hujan menjelang berakhirnya musim kemarau di akhir bulan Oktober ini.
"Dari hasil citra radar cuaca, ada tadi hujan di Seturan. Ini mengawali adanya hujan. Prakiraan musim kemarau berakhir di dasarian akhir bulan Oktober, awal bulan November," kata Kepala Stasiun Meteorologi, BMKG Yogyakarta, Warjono, dihubungi Selasa.
Ia juga membagikan tangkapan layar citra radar cuaca yang memperlihatkan sebagian langit wilayah Seturan memiliki warna biru, hijau dan kuning.
Menurut dia, warna biru menandakan jika hujan turun dengan intensitas ringan.
Sedangkan warna hijau menandakan hujan sedang.
Selain di Seturan, Warjono menyampaikan bahwa berdasarkan citra radar cuaca hingga pukul 14.00 WIB hari ini, ada potensi hujan dengan intensitas sedang mengguyur wilayah Gunungkidul bagian utara meliputi Patuk, Gedang Sari dan Nglipar.
Kemudian sebagian kecil awan hujan juga terpantau di lereng gunung Merapi.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG DIY, Reni Kraningtyas sebelumnya memprediksi awal musim hujan secara umum di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dimulai bulan November dasarian pertama hingga bulan Desember.
Jika dibandingkan terhadap normal awal musim hujan,--yang semula diprediksi Oktober,--maka awal musim hujan ini diprakirakan mundur 2 hingga 3 dasarian akibat fenomena elnino.
Mundurnya awal musim hujan ini perlu antisipasi dini.
Reni meminta kepada masyarakat maupun instansi terkait agar waspada terhadap dampak yang ditimbulkan, seperti potensi kekeringan maupun potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Warga juga diminta untuk menjaga kondisi tubuh dengan banyak mengonsumsi air putih plus vitamin untuk mencegah dehidrasi.
Karena musim kemarau yang panjang bisa menyebabkan suhu lebih panas dan udara dirasakan lebih kering.
Banyak debu di atmosfer yang dapat mengganggu alat pernafasan.
Masyarakat juga diimbau bijak dalam menggunakan air bersih.
"Masyarakat (diimbau) agar bijak menggunakan air bersih. Agar kebutuhan air minum dan air untuk kebutuhan rumah tangga dapat tersedia secara efisien dan multiguna untuk berbagai kebutuhan," katanya.( Tribunjogja.com )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-hujan.jpg)